Penginderaan Jauh
Maret 30, 2008 — La AnSabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek. Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993), Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji.
Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara atau wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki karakteristik berbeda-beda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya menentukan perbedaan dari data penginderaan jauh yang di hasilkan (Richards and Jia, 2006).
Pengumpulan data penginderaan jauh dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai dengan tenaga yang digunakan. Tenaga yang digunakan dapat berupa variasi distribusi daya, distribusi gelombang bunyi atau distribusi energi elektromagnetik (Purwadhi, 2001).
Skema Umum Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh sangat tergantung dari energi gelombang elektromagnetik. Gelomabng elektromagnetik dapat berasal dari banyak hal, akan tetapi gelombang elektromagnetik yang terpenting pada penginderaan jauh adalah sinar matahari. Banyak sensor menggunakan energi pantulan sinar matahari sebagai sumber gelombang elektromagnetik, akan tetapi ada beberapa sensor penginderaan jauh yang menggunakan energi yang dipancarkan oleh bumi dan yang dipancarkan oleh sensor itu sendiri. Sensor yang memanfaatkan energi dari pantulan cahaya matahari atau energi bumi dinamakan sensor pasif, sedangkan yang memanfaatkan energi dari sensor itu sendiri dinamakan sensor aktif (Kerle, et al., 2004)
Ukuran energi yang dipantulkan dan dipancarkan oleh sensor penginderaan jauh (Karle, el al., 2004)
Analisa data penginderaan jauh memerlukan data rujukan seperti peta tematik, data statistik dan data lapangan. Hasil nalisa yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan, jenis penutup lahan, kondisi lokasi dan kondisi sumberdaya lokasi. Informasi tersebut bagi para pengguna dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan dalam mengembangkan daerah tersebut. Keseluruhan proses pmulai dari pengambilan data, analisis data hingga penggunaan data tersebut disebut Sistem Penginderaan Jauh (Purwadhi, 2001)


Maret 30, 2008 pukul 10:42 pm
waw~
hebat yah bisa dapet data selengkap ini xD
tapi sialnya daku kurang ngerti bginian,
hhehe
-shi-AK ^^
Maret 30, 2008 pukul 11:50 pm
@ペコchuu_
Selamat datang dek….
nanti qm dapat di pelajaran geografi
dibaca2 dulu deh…
April 23, 2008 pukul 8:48 pm
Wah kebetulan ada forum ini…..
Kebetulan sekali mas aku lagi ambil penelitian mengenai penginderaan jauh…
Mudah2an aku bisa diskusi dengan mas…
Coz aku lagi butuh banyak masukan dan literatur….
Aku ada bbrapa pertanyaan:
1.Bisa gak kita analisis citra mengenai kadar air tanah dengan terlebih dahulu menganalisa kelembaban tanahnya melalui metode NDSI (Normalized Difference Soil Index) atau NDVI (Normalixed Difference Vegetasi Index)??
2.Apakah cukup hanya dengan menganalisa kelembaban tanah kita sudah bisa menmperkirakan kadar air tanahnya????
(Kadar air tanah yg aku maksud adalah yg tersedia bagi tanaman)
Aku berencana meneliti mengenai perubahan penggunaan lahan sawah melalui citra satelit landsat TM terhadap kadar air tanah dan tingkat produksi padi…
Makasih sebelumnya….
uLfa
Soiler Unpad
April 28, 2008 pukul 2:25 pm
klo pemanfaatan citra pengindraan jauh bagi pembangunan tw g??
q ud cri” tp g dpt…
mohon bantuanNya y…..^___^
Mei 11, 2008 pukul 2:47 am
@uLfa
saya belum tau tentang pemanfaatan NDSI untuk kelembaban tanah. bukannya klo mau ngelihat kelembaban tanah harus pake citra radar? maaf saya ga tau tentang kelembaban tanah yg dihubungkan dengan penginderaan jauh
@nopita
pembangunan giman nieh maksudnya