Melihat kemungkinan hujan real time dari data Satelit MTSAT

Seperti yang ditampilkan oleh posting sebelumnya mengenai “Sebaran awan (hujan) di atas Indonesia secara real time dari satelit MTSAT”, maka kali ini saya akan mencoba menampilkan potensi hujan yang juga secara real time 24 jam yang di ambil dari satelit MTSAT. gambar paling atas menunjukan kondisi potensi hujan pada sat ini atau satu jam yang lalu. warna warni pada gambar di bawah berasal composit beberapa keadan seperti adanya suhu. dalam tulisan ini, potensi hujan berasal dari awan Cumulonimbus, dimana warna merah mengartikan adanya awan Cumulonimbus yang memiliki potensi hujan deras yang intensitasnya tinggi. semoga bermanfaat.

Baca entri selengkapnya »

List of Remote Sensing and GIS Journals with the Impact Factors

The following list provides impact factors for relevant Remote Sensing and GIS scientific journals.

2012 Impact Factor (5-year Impact Factor) Journal Name

** Remote Sensing

5.103 (6.144) Remote Sensing of Environment
3.467 (-) IEEE Transactions on Geoscience and Remote Sensing
3.313 (4.026) ISPRS Journal of Photogrammetry and Remote Sensing
2.874 (-) IEEE Journal of Selected Topics in Applied Earth Observations and Remote Sensing
2.176 (2.557) International Journal of Applied Earth Observation and Geoinformation
2.101 (2.171) Remote Sensing
1.823 (-) IEEE Geoscience and Remote Sensing Letters
1.615 (-) Remote Sensing Letters
– (-) Photogrammetric Engineering and Remote Sensing
1.138 (-) International Journal of Remote Sensing
1.440 (-) The Photogrammetric Record
1.183 (1.121) Advances in Space Research
– (-) Canadian Journal of Remote Sensing
1.433 (-) GIScience & Remote Sensing
0.876 (1.130) Journal of Applied Remote Sensing
0.344 (-) Journal of the Indian Society of Remote Sensing

** GIS

– (-) International Journal of Geographical Information Science
– (-) The Geographical Journal
– (-) Geoforum
– (-) Journal of Geographical Sciences
– (-) Chinese Geographical Science
– (-) Transactions in GIS
– (-) Computers & Geosciences
– (-) Journal of Spatial Science
– (-) International Journal of Digital Earth
– (-) GeoInformatica
– (-) Journal of Geographical Systems
– (-) Geocarto International
– (-) Journal of Geographic Information System
– (-) Geo-spatial Information Science
– (-) GeoJournal
– (-) Geographical Research
– (-) Geography Compass
– (-) GeoJournal
– (-) International Journal of Spatial Data Infrastructures Research

** Relevance

4.09 (4.54) Public Library of Science One (PLOS One)
3.36 (4.06) Progress in Physical Geography
5.15 ( 6.63) Global Ecology and Biogeography
3.11 (3.17 ) Environmental Modelling & Software
3.25 (3.16) Journal of Environmental Management
1.69 (1.95) Canadian Journal of Forest Research
1.98 (2.11) European Journal of Forest Research
2.49 (2.74) Forest Ecology and Management
1.38 (1.99) Forestry
1.05 (1.43) Forest Science
3.79 (3.76) Geophysical Research Letters
6.86 (8.04) Global Change Biology
3.06 (3.83) Landscape Ecology
31.20 (32.45) Science
11.75 (11.92) Nature Geoscience
2.86 (3.34) Transportation Research Part B: Methodological
2.17 (3.10 ) Landscape and Urban Planning
1.55 (1.89) Data Mining and Knowledge Discovery
2.18 (2.48) Neural Networks
2.95 (3.37) IEEE Transactions on Neural Networks
4.19 (5.54) Ecography
2.33 (2.71) Ecological Modelling

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) BERBASIS DATA RASTER UNTUK PENGKELASAN KEMAMPUAN LAHAN DI PROVINSI BALI DENGAN METODE NILAI PIKSEL PEMBEDA

Jurnal Manusia dan Lingkungan

Volume 19, Nomor 1, 2012

Application of Geographic Information System (GIS) based raster data to classify land capability in Bali Province by using differentiator pixel value method

I Wayan Sandi Adnyana1)2) dan Abd. Rahman As-syakur2)*

1)Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Jln. P.B. Sudirman, Denpasar-Bali
2)Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Udayana, Denpasar, Jln. P.B. Sudirman, Denpasar-Bali

Abstrak

Penggunaan teknologi seperti SIG sangat baik untuk mengelompokkan data keruangan lahan berdasarkan faktor potensi dan penghambat penggunaannya. Dengan mengimprovisasi metode tumpang susun diharapkan mampu mempercepat proses studi tentang pengkelasan kemampuan lahan. Tujuan penelitian ini adalah pengaplikasian SIG berbasis data raster untuk memetakan kelas kemampuan lahan di Provinsi Bali dengan menggunakan metode ”nilai piksel pembeda”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan SIG dapat memperlihatkan sebaran kelas kemampuan lahan yang heterogen dan kompleks sehingga memperjelas informasi lahan pada satuan unit lahan yang sempit. Selain itu penggunaan metode ini juga membantu mempercepat prosestumpang susun dan query data. Kelas kemampuan lahan di Provinsi Bali dapat dikelompokkan menjadi 8 kelas, dari kelas I sampai kelas VIII. Sebaran kelas kemampuan lahannya didominasi oleh lahan dengan kelas VI, VII dan VIII yaitu seluas 50,7% dari luas Provinsi Bali. Kabupaten Buleleng, Jembrana, dan Karangasem berturut-turut merupakan daerah-daerah terluas yang memiliki kemampuan lahan kelas VIII. Daerah-daerah tersebut harus lebih instensif dalam menjaga lahan-lahan berkelas VIII agar tidak beralih fungsi dari lahan hutan menjadi lahan non hutan.

Kata kunci: SIG, data raster, kemampuan lahan, nilai piksel pembeda

Abstract

The use of technologies such as GIS  are very good for spatial data classifying based on potential and inhibiting use factors. With improvise an overlay method expected to accelerate study process about land capability classifying. The purpose of this research is the application of GIS based raster data to mapping land capability class in Bali Province by using “differentiator pixel value”. The results showed that the use of GIS can show the heterogeneous and complex distribution of land capability classes and can clarify the land information on a narrow land unit. Furthermore, the uses of this method also help to accelerate the overlay and query data process. The distribution of land capability class is dominated by land with class VI, VII and VIII, which is covering 50.7% of the Bali Province. Districts that have a biggest land capability class VII is Buleleng, Jembrana, and Karangasem, respectively. Therefore, these districts should be more intensive to keeping the lands class VIII for not switching function from forest into non-forest land.

Keywords: GIS, raster data, land capability, differentiator pixel value Baca entri selengkapnya »

Deteksi Urban Heat Island (pulau panas perkotaan) dengan data penginderaan jauh

Proses urbanisasi yang terjadi di kota-kota besar membawa pengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk. Akibat proses urbanisasi adalah adanya alih fungsi lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Dampak dari proses urbaniasi selain mempengaruhi kondisi kulitas lingkungan adalah terjadinya perubahan iklim mikro dimana kondisi suhu udara di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan suhu udara di sekitarnya (Lo and Quattrochi, 2003; Chen et al., 2006). Fenomena ini sering disebut sebagai efek Urban Heat Island (UHI). UHI merupakan suatu fenomena atau kejadian peningkatan suhu udara di wilayah perkotaan dibandingkan dengan daerah sekitarnya hingga mencapai 3-10 °C. Kondisi ini disebabkan oleh objek di wilayah perkotaan sebagian besar merupakan lahan terbangun, dan material-material yang kedap air yang secara umum akan mengakibatkan penyerapan kapasitas panas dan konduktivitas panas yang tinggi. Menurut Tursilowati (2007) bahan bangunan seperti aspal, semen, dan beton menjadi penyerap dan penyimpan panas matahari. Ditambah lagi dengan penggunaan alat pemanas, pendingin udara, dan pembangkit listrik yang menghasilkan buangan panas.

Gambar ini memperlihatkan perdaan suhu dari objek vegetasi dan area terbangun (aspal dan gedung). Vegetasi (warna hijau) memiliki suhu yang lebih rendah dari aspal dan bangunan (warna merah and orange)

UHI terbentuk jika sebagian tumbuh-tumbuhan (vegetasi) digantikan oleh aspal dan beton untuk jalan, bangunan, dan struktur lain diperlukan untuk mengakomodasi bertambahnya populasi manusia. Permukaan tanah yang tergantikan tersebut lebih banyak menyerap panas matahari dan juga lebih banyak memantulkannya, sehingga menyebabkan temperatur permukaan dan suhu lingkungan naik. Penggantian semak belukar dan pohon menyebabkan tempat berteduh dan pertukaran udara melalui evapotranspirasi berkurang sehingga udara yang lebih lembab hilang (Nowak, 2000).

Studi mengenai UHI sangat penting karena mempengaruhi kondisi kualitas udara, mempengaruhi kesehatan manusia dan mempengaruhi penggunaan energi. Peningkatan UHI juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perubahan iklim global. Dalam studi ini dilakukan analisis dengan menggunakan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografi. Kelebihan penginderaan jauh dalam hal penyediaan data spasial rapat dengan akurasi baik serta cakupan wilayah yang luas telah dibuktikan oleh Lo et al. (1997), Streutker (2002), dan Chen et al. (2006). Semua penelitian mengungkapkan potensi penggunaan penginderaan jauh untuk menganalisis fenomena UHI mendapatkan hasil yang baik dan akurat, meskipun tetap harus didukung oleh data observasi lapang di stasiun klimatologi sebagai data referensi. Keterbatasan jumlah stasiun cuaca konvensional secara spasial dapat ditutupi dengan penggunaan penginderaan jauh. Baca entri selengkapnya »

Sebaran awan (hujan) di atas Indonesia secara real time dari satelit MTSAT

mengingat pentingnya informasi sebaran awan secara real time di wilayah indonesia, maka saya mencoba menautkan dalam blog ini. sekedar informasi Indonesia merupakan salah satu wilayah di dunia yang memiliki variabilitas hujan yang sangat tinggi baik secara waktu maupun lokasi. oleh karena itu sangat penting mengetahui kondisi terkini dari hujan di wilayah ini oh iya, yg warna putih dalam gambar adalah awan. awan didalam gambar tersebut bukan berarti hujan, tetapi memiliki kemungkinan hujan. susunan gambar dari atas ke bawah menginformasikan sebaran awan dari satu jam sebelumnya (saat anda membuka blog ini) sampai 25 jam sebelumnya. garis hujau adalah sebaran pulau-pulau di Indonesia. informasi sebaran awan ini di peroleh dari Meteorological Satellite Center (MSC) of Japan Meteorological Agency (JMA). satelitnya adalah MTSAT-2. OK selamat menikamati hidangan ini. semoga bisa menjadi early warning (pengingat) untuk kita semua.

Baca entri selengkapnya »

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

London Olympic Stadium holds 80,000 people. This blog was viewed about 320.000 times in 2011. If it were competing at London Olympic Stadium, it would take about 4 sold-out events for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Melihat siklus curah hujan harian Indonesia dengan data penginderaan jauh

Saat ini banyak sekali artikel-artikel yang membahas siklus curah hujan harian untuk wilayah Indonesia. Dan gambarnya bisa dilihat di samping (Biasutti et al., 2011; Qian, 2008).

Menarik untuk dilihat klo ternyata hujan “di wilayah kita” ini secara umum dimulai setelah matahari berada di atas ufuk. Kok di bilang “di wilayah kita”? Soalnya “di wilayah kita” yang dimakasud disini ya di tempat kita tinggal yaitu di daratan. Klo tinggalnya di laut berati ga termasuk wilayah kita ya:mrgreen:.

coba dilihat deh baik2, klo pas pagi hari hampir seluruh wilayah daratan di Indonesia bening alias putih alias ga ada hujan, pas dah sore, seluruh wilayah daratan indonesia itu gelap gulita alias memiliki hujan lebat. Baca entri selengkapnya »

  • counter
  • Add to My Yahoo!
  • Powered by WordPress - WordPress Blogs Directory
  • Top Academics blogs
  • Bookmark and Share
  • Monitored by Pingdom
  • Review www.mbojo.wordpress.com on alexa.com
  • free counters
  • Read this FREE online!