Informasi Sebaran Spasial Hujan Real Time dari Satelit Himawari

Data real time dimulai dari jam 01 UTC (+7 untuk WIB), terdapat dua gambar untuk satu jam pengamatan yaitu sebaran kemungkinan hujan dan sebaran awan

Link dapat di lihat di http://www.data.jma.go.jp/mscweb/data/himawari/sat_img.php?area=se3

 

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Deteksi Urban Heat Island (pulau panas perkotaan) dengan data penginderaan jauh

Proses urbanisasi yang terjadi di kota-kota besar membawa pengaruh terhadap peningkatan jumlah penduduk. Akibat proses urbanisasi adalah adanya alih fungsi lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Dampak dari proses urbaniasi selain mempengaruhi kondisi kulitas lingkungan adalah terjadinya perubahan iklim mikro dimana kondisi suhu udara di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan suhu udara di sekitarnya (Lo and Quattrochi, 2003; Chen et al., 2006). Fenomena ini sering disebut sebagai efek Urban Heat Island (UHI). UHI merupakan suatu fenomena atau kejadian peningkatan suhu udara di wilayah perkotaan dibandingkan dengan daerah sekitarnya hingga mencapai 3-10 °C. Kondisi ini disebabkan oleh objek di wilayah perkotaan sebagian besar merupakan lahan terbangun, dan material-material yang kedap air yang secara umum akan mengakibatkan penyerapan kapasitas panas dan konduktivitas panas yang tinggi. Menurut Tursilowati (2007) bahan bangunan seperti aspal, semen, dan beton menjadi penyerap dan penyimpan panas matahari. Ditambah lagi dengan penggunaan alat pemanas, pendingin udara, dan pembangkit listrik yang menghasilkan buangan panas.

Gambar ini memperlihatkan perdaan suhu dari objek vegetasi dan area terbangun (aspal dan gedung). Vegetasi (warna hijau) memiliki suhu yang lebih rendah dari aspal dan bangunan (warna merah and orange)

UHI terbentuk jika sebagian tumbuh-tumbuhan (vegetasi) digantikan oleh aspal dan beton untuk jalan, bangunan, dan struktur lain diperlukan untuk mengakomodasi bertambahnya populasi manusia. Permukaan tanah yang tergantikan tersebut lebih banyak menyerap panas matahari dan juga lebih banyak memantulkannya, sehingga menyebabkan temperatur permukaan dan suhu lingkungan naik. Penggantian semak belukar dan pohon menyebabkan tempat berteduh dan pertukaran udara melalui evapotranspirasi berkurang sehingga udara yang lebih lembab hilang (Nowak, 2000).

Studi mengenai UHI sangat penting karena mempengaruhi kondisi kualitas udara, mempengaruhi kesehatan manusia dan mempengaruhi penggunaan energi. Peningkatan UHI juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perubahan iklim global. Dalam studi ini dilakukan analisis dengan menggunakan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografi. Kelebihan penginderaan jauh dalam hal penyediaan data spasial rapat dengan akurasi baik serta cakupan wilayah yang luas telah dibuktikan oleh Lo et al. (1997), Streutker (2002), dan Chen et al. (2006). Semua penelitian mengungkapkan potensi penggunaan penginderaan jauh untuk menganalisis fenomena UHI mendapatkan hasil yang baik dan akurat, meskipun tetap harus didukung oleh data observasi lapang di stasiun klimatologi sebagai data referensi. Keterbatasan jumlah stasiun cuaca konvensional secara spasial dapat ditutupi dengan penggunaan penginderaan jauh. Baca entri selengkapnya »

Sebaran awan (hujan) di atas Indonesia secara real time dari satelit MTSAT

mengingat pentingnya informasi sebaran awan secara real time di wilayah indonesia, maka saya mencoba menautkan dalam blog ini. sekedar informasi Indonesia merupakan salah satu wilayah di dunia yang memiliki variabilitas hujan yang sangat tinggi baik secara waktu maupun lokasi. oleh karena itu sangat penting mengetahui kondisi terkini dari hujan di wilayah ini oh iya, yg warna putih dalam gambar adalah awan. awan didalam gambar tersebut bukan berarti hujan, tetapi memiliki kemungkinan hujan. susunan gambar dari atas ke bawah menginformasikan sebaran awan dari satu jam sebelumnya (saat anda membuka blog ini) sampai 25 jam sebelumnya. garis hujau adalah sebaran pulau-pulau di Indonesia. informasi sebaran awan ini di peroleh dari Meteorological Satellite Center (MSC) of Japan Meteorological Agency (JMA). satelitnya adalah MTSAT-2. OK selamat menikamati hidangan ini. semoga bisa menjadi early warning (pengingat) untuk kita semua.

Baca entri selengkapnya »

Melihat siklus curah hujan harian Indonesia dengan data penginderaan jauh

Saat ini banyak sekali artikel-artikel yang membahas siklus curah hujan harian untuk wilayah Indonesia. Dan gambarnya bisa dilihat di samping (Biasutti et al., 2011; Qian, 2008).

Menarik untuk dilihat klo ternyata hujan “di wilayah kita” ini secara umum dimulai setelah matahari berada di atas ufuk. Kok di bilang “di wilayah kita”? Soalnya “di wilayah kita” yang dimakasud disini ya di tempat kita tinggal yaitu di daratan. Klo tinggalnya di laut berati ga termasuk wilayah kita ya :mrgreen:.

coba dilihat deh baik2, klo pas pagi hari hampir seluruh wilayah daratan di Indonesia bening alias putih alias ga ada hujan, pas dah sore, seluruh wilayah daratan indonesia itu gelap gulita alias memiliki hujan lebat. Baca entri selengkapnya »

Data Hujan dari TRMM [Pemanfaatan]: Anomali hujan saat La Nina dilihat dari data penginderaan jauh TRMM

Aplikasi data penginderaan jauh emang tidak ada habisnya. Klo sebelumnya blog ini bercerita tentang Data Hujan dari TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission); Basic Information, maka pada tulisan ini akan bercerita tentang bagaimana pemanfaatan data TRMM untuk memantau anomali curah hujan di indonesia saat fenomena iklim La Nina. Sudah banyak tulisan di blog ini yang menyatakan bahwa saat fenomena La Nina curah hujan di indonesia akan meningkat secara signifikan, tetapi dimana saja terjadinya masih dalam perdebatan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang sebaran anomali hujan sat kejadian La Nina.

Seharusnya saya bercerita dulu tentang bagaimana tingkat keakurasian data TRMM ini, saya sudah menulisnya dan akan segera diterbitkan dalam prosiding international, sambil menunggu terbitnya paper itu, saya akan bercerita duluan tentang pengaplikasiannya untuk mengetahui persentase anomali hujannya. Studi kasusnya di Indonesia dan saya mengambil saat kejadian La Nina. Kenapa kejadian La Nina, karena selama berorbitnya satelit ini, belum pernah terjadi ke jadian El Nino yang kuat (rentang waktu 1998-2011), ya mau ga mau untuk kejadian La Nina saja. Tetapi secara umum lokasi anomali iklim yang diakbatkan oleh kejadian La Nina ataupun El Nino di Indonesia adalah sama. Baca entri selengkapnya »

Coral reef response to global warming: paper collections

This is a list of papers on coral response to global warming and the ocean acidification. The list is not complete, and will most likely be updated in the future in order to make it more thorough and more representative.

Sea-surface temperature and thermal stress in the Coral Triangle over the past two decades – (Penaflor et al.) (2009)  “Increasing ocean temperature has become one of the major concerns in recent times with reports of various related ecological impacts becoming commonplace. One of the more notable is the increased frequency of mass coral bleaching worldwide. This study focuses on the Coral Triangle region and utilizes the National Oceanic and Atmospheric Administration-Coral Reef Watch (NOAACRW) satellite-derived sea surface temperature (SST) and Degree Heating Weeks (DHW) products to investigate changes in the thermal regime of the Coral Triangle waters between 1985 and 2006. Results show an upward trend in SST during this period with an average rate of 0.2C/ decade. However, warming within this region is not uniform, and the waters of the northern and eastern parts of the Coral Triangle are warming fastest. Areas in the eastern part have experienced more thermal stress events, and these stress events appear to be more likely during a La Nina.” Penaflor et al, Coral Reefs (2009) 28:841–850. [full text]

Coral Reefs and Ocean Acidification – Kleypas and Yates (2009)Coral reefs were one of the first ecosystems to be recognized as vulnerable to ocean acidification. To date, most scientific investigations into the effects of ocean acidification on coral reefs have been related to the reefs’ unique ability to produce voluminous amounts of calcium carbonate. It has been estimated that the main reef-building organisms, corals and calcifying macroalgae, will calcify 10–50% less relative to pre-industrial rates by the middle of this century. This decreased calcification is likely to affect their ability to function within the ecosystem and will almost certainly affect the workings of the ecosystem itself. However, ocean acidification affects not only the organisms, but also the reefs they build. The decline in calcium carbonate production, coupled with an increase in calcium carbonate dissolution, will diminish reef building and the benefits that reefs provide, such as high structural complexity that supports biodiversity on reefs, and breakwater effects that protect shorelines and create quiet habitats for other ecosystems, such as mangroves and seagrass beds. The focus on calcification in reefs is warranted, but the responses of many other organisms, such as fish, noncalcifying algae, and seagrasses, to name a few, deserve a close look as well.” Joan A. Kleypas and Kimberly K. Yates, Oceanography 22(4):108–117, DOI: 10.5670/oceanog.2009.101. [full text]

Monitoring coral reefs from Space – Eakin et al., (2010) “Coral reefs are one of the world’s most biologically diverse and productive ecosystems. However, these valuable resources are highly threatened by human activities. Satellite remotely sensed observations enhance our understanding of coral reefs and some of the threats facing them by providing global spatial and time-series data on reef habitats and the environmental conditions influencing them in near-real time. This review highlights many of the ways in which satellites are currently used to monitor coral reefs and their threats, and provides a look toward future needs and capabilities.” Eakin CM, Nim CJ, Russell EB, Aubrecht C, Elvidge C, Gledhill DK, Muller-Karger F, Mumby PJ, Skirving WJ, Strong AE, Wang M, Weeks SJ, Wentz F, Ziskin D, Oceanography, 23(4):118–133, DOI:10.5670/oceanog.2010.10 [full text] Baca entri selengkapnya »

Tahun-tahun El Nino, La Nina, IOD positif dan IOD negatif

Berbicara tentang El Nino, La Nina serta IOD benar-benar tidak ada habisnya… hal ini ya karena fenomena-fenomena itu memiliki dampak yang cukup besar terhadap kondisi lingkungan dan social di Indonesia. Dampak-dampak itu bias bersifat positif maupun bersifat negative. Tapi biasanya untuk saat-saat ini hanya dampak negative yang serinmg di dengung-dengungkan… ya biasalah… :mrgreen:

Saat ini saya akan memcoba menulis tahun-tahun kejadian El Nino, La Nina, IOD positif, dan IOD negatif. Isu ini saya coba angkat karena masih ada beberapa penulis lepas yang sekedar mengutip informasi tanpa mengecek kembali kebenaran dari informasi tersebut. ENSO merupakan pola berulang dari variabilitas iklim di bagian timur samudera Pasifik yang ditandai dengan anomali temperatur permukaan laut (penghangatan permukaan laut menggambarkan kejadian El Nino sedangkan pendinginan permukaan laut menggambarkan kejadian La Nina) serta anomali Sea level pressure (Southern Oscillation). Perlu diingatkan kembali bahwa kejadian El Nino dicirikan oleh PENGHANGATAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI SAMUDERA PASIFIK BAGIAN TENGAH DAN MEMBENTUK SUATU KOLAM HANGAT YANG BEREFEK PADA PENDINGINAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI LAUTAN INDONESIA sedangkan kejadian La Nina dicirikan oleh PENDINGINAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI SAMUDERA PASIFIK BAGIAN TENGAH DAN KOLAM HANGATNYA BERPINDAH KE BAGIAN BARAT SAMUDERA PASIFIK (DISEKITAR LAUTAN INDONESIA) YANG BEREFEK PADA PENGHANGATAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI LAUTAN INDONESIA. IOD dicirikan oleh adanya zona gradien perbedaan suhu permukaan laut yang kuat di wilayah ekuatorial samudera hindia. IOD positif dicirikan oleh MENGHANGATNYA SUHU PERMUKAAN LAUT DI SEKITAR BENUA AFRIKA DAN MENDINGINNYA SUHU PERMUKAAN LAUT DI SEKITAR PULAU SUMATERA. Sedangkan IOD negatif dicirikan oleh MENDINGINNYA SUHU PERMUKAAN LAUT DI SEKITAR BENUA AFRIKA DAN MENGHANGATNYA SUHU PERMUKAAN LAUT DI SEKITAR PULAU SUMATERA. Kondisi ini harus di ingat dan jangan di balik-balik. Beberapa tulisan mengartikan kondisi hangat (warm even) di samudera pasifik juga diartikan kondisi hangat di lautan Indonesia, padahal saat disana itu panas, ya disini dingin… 😀 Baca entri selengkapnya »

  • counter
  • Add to My Yahoo!
  • Powered by WordPress - WordPress Blogs Directory
  • Top Academics blogs
  • Bookmark and Share
  • Monitored by Pingdom
  • Review www.mbojo.wordpress.com on alexa.com
  • free counters
  • Read this FREE online!