SUMBERDAYA

Sumberdaya adalah setiap hasil, benda, atau sifat/keadaan, yang dapat dihargai bilamana produksinya, prosesnya, dan penggunaannya dapat dipahami (Jayadinata, 1986).

Sumberdaya alam dibagi menjadi dua yaitu:

a. Dapat diperbaharui

b. Tidak dapat diperbaharui

sumberdaya alam harus dilestarikan yang berguna untuk memastikan pengawetan kualitas lingkungan dan keberlanjutan untuk menciptakan siklus keseimbangan antara hasil dan pengembaliannya.

Pemanfaatan sumberdaya alam tanpa pengawetan dan keberlanjutan menimbulkan masalah yg lebih kompleks.

1. Sumberdaya mineral

Sampai saat ini hanya sedikit perhatian yang dicurahkan pada pelestarian sumber daya mineral, karena dkira masih banyak persediaan untuk berabad-abad mendatang, dan bahkan tidak ada yang dapat diperbuat untuk menyelamatkannya. Kini ternyata bahwa kedua pernyataan tersebut sama sekali salah. Cloud (1968, 1969, 1970) telah mengadakan investigasi prsediaan dan meninjau masa depannya. Ia memperkenalkan dua konsep (dalam karyanya tahun 1969) yang berguna untuk mengevaluasi keadaan. Yang pertama adalah kuosian demografi (demographyc quotien), yang akan kita namakan “Q”:

Q = Jumlah persediaan yang ada

Kerapatan penduduk ´ konsumsi per kapita


Jika kuosien menurun, berarti kualitas kehidupan juga menurun; penurunan ini terjadi dalam kecepatan yang menakutkan karena persediaan yang ada hanya dapat (atau akhirnya) menuru sementara konsumsi meningkat. Bahkan andaikata persediaan yang ada dipertahankan tetap dengan jalan daur ulang atau dengan cara lai, keadaan akan memburuk, selama penduduk dan terutama konsumsinya perkapita, naik dengan kecepatan tinggi. Sehingga, di Amerika Serikat pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang didasarkan atas eksploitasi sumber daya alam meningkat dengan kecepatan 10% setiap tahun (menjadi dua kali lipat selama 7 tahun), pertumbuhan urban meningkat 6% per tahun, sedangkan pertumbuhan penduduk hanya 1%. Andaikata dunia yang belum berkembang dengan penduduknya yang luar biasa banyak meningkatkan penggunaan mineral per kapita (dan bahan bakar fosil yang diperlukan untuk di ekstrak, serta penggunaan sumber daya mineral) sampai mendekati tingkat penggunaan di Amerika Serikat, kekurangan yang sangat hebat akan segera terjadi.

untitled.jpg

Gambar 1. Pola penggati sumber daya mineral. A. Pola ektrasi dan penipisan bahan mineral (atau bahan mentah lainnya yang tidak terbaharui) secara cepat, yang akan terjadi dengan kebiasaan sekarang yaitu penambangan tanpa batas, menggunakan dan membuang. Beberapa logam utama akan “habis terkuras” sebelum tahun 2000 jika pola ini tetap berlangsung. B. Masa penipisan dapat diperpanjang dengan daur ulang sebagian dan penggunaan yang kurang mubazir. C. Daur ulag secara efisien, digabung dengan pelestarian yang ketat dan penggatian (sedapat mungkin dapat menggunakan bahan penggati yang lebih berlimpah), dapat memperpanjang kurva penipisan mineral untuk waktu yang terbatas (Bagian dikutip dari Cloud, 1969).

Konsep lain yang diperkenalkan oleh Cloud ialah model garfik dari kurva-kurva penipisan (depletion curves), seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Dengan prosedur seperti sekarang “menambang, menggunakan, dan membuang” masa ledakan besar dan penurunan diperkirakan seperti ditunjukkan oleh kurva A. skala waktu tidak pasti karena ketiadaan data, tetapi penurunan ini dapat mulai pada abad sekarang, karena logam utama seperti seng, timah, timah-hitam (diperlukan oleh mobil listrik), tembaga dan logam-logam lain dapat habis ditambang dalam waktu 20 tahun, sepanjang mengenai cadangan yang sudah siap untuk dimanfaatkan. Jika program pelestarian mencakup pembatasan, penggatian (sedapat mungkin dengan menggunakan mineral yang kurang langka), dan sebagian daur ulang dimulai sekarang, kurva penipisan dapat dibuat lebih mendatar seperti terlihat pada kurva B. pendaurulangan secara efisien dikombinasikan dengan pelestarian yang ketat dan pengurangan dalam penggunaan perkapita (“penurunan tenaga” oleh negar-negara maju) dapat memperpanjang penipisan untuk jangka waktu lama seperti terlihat pada kurva C.

Masalah persedian bahan baku industri (mineral) juga dihadapi oleh persediaan energi seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil beberapa sumber energi ini telah mulai merasakan akibat dari kekurangan pasokan sumber energi ini. Pemanfaatan gas alam dan batu bara sebagai alternatif sumber energi sebagai akibat dari mahalnya minyak bumi dapat memberikan dampak lingkungan yang buruk seperti hujan asam yang dapat merusak pertanian dan kehutanan, meningkatkan konsentrasi gas Carbon di udara yang dapat menyebabkan pemanasan global dan segala efeknya serta polutan radio aktif yang dapat mengganggu kesehatan masayarakat disekitarnya. Saat ini produksi batu bara di Indonesia sekitar 155 juta metrik ton/tahun dan cadangan batu bara di Indonesia sekitar 50 miliar metrik ton/tahun.

Pemanfaatan energi yang dapat diperbaharui seperti biofuell dapat mengurangi kerusakan ekologi akibat dari pemanfaat energi dari bahan yang tidak terbaharukan

2. Pertanian dan kehutanan

Praktek pertanian di daerah tropika adalah sangat lain dibandingkan dengan daerah beriklim sedang, hal ini dikarenakan perbedaan energi yang diterima pada masing-masing dearah.

Peningkatan produksi pertanian yang diakibat oleh revolusi hijau yang dilaksanakan oleh indutrialisasi pertanian melibatkan subsidi bahan bakar yang banyak, pengendalian kimiawi yang canggih, dan jenis-jenis tanaman yang telah sangat dijinakkan (hasil kultur jaringan).

Untuk melipatgandakan hasil pertanian dau kali lebih banyak dari keadaan tradisional diperlukan 10 kali lipat peningkatan pupuk, pestisida dan tenaga kuda, jadi pertnaian secara industri memproduksi hasil empat kali lipat per acre dibandingkan dengan pertanian tenaga manusia dan biantang peliharaan (tradisional). Peningkatan hasil secara maksimal tanpa memperdulikan akibat lain dapat menimbulkan serangan balik ekologi yang sungguh pada lingkungan maupun sosial.

Akibat penerapan revolusi hijau di Indonesia pada akhir tahun 1960an telah menyebabkan berkurangnya tingkat kesburan tanah yang sangat serius. Pemberian pestisida, penggunaan varitas unggul serta pemberian pupuk anorganik (pupuk yang hanya mempunyai unsur hara makro) telah menyebabkan kerusakan fisik tanah dan biologi tanah. Tanah menjadi lebih padat serta jasad renik dan mikroba tanah pada tanah sawah banyak yang hilang. Oleh karena itu penggunaan pestisida alami serta penggunaan pupuk berimbang sangat dianjurkan untuk mengatasi hal-hal tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian Paramartha (2003) pada areal sawah yang menerapkan intensifikasi pertanian dan sawah yang tidak melakukan intensifikasi pertanian di daerah Tabanan, menemukan bahwa perbedaan kepadatan biota tanah mencapai 525,8 persen dimana pada daerah tidak melakukan intensifikasi pertanian terdapat 6 jenis spesies dan pada sawah yang melakukan intensifikasi pertanian hanya memiliki 4 jenis spesies. Hal ini menunjukan bahwa penerapan intensifikasi pertanian menyebabkan penurunan jumlah biota tanah. Keadaan ini dapat menggangu komunitas yang ada di areal persawahan, dan salah satu dampak buruknya adalah menurunnya kualitas tanah.

Berbeda dengan pertanian, sebagain besar hasil kehutanan sebegitu jauh diperoleh dengan memanen hasil pertumbuhan sedikit demi sedikit pada masa lalu. Karena tandon alami ini di “tambang” indutri kehutanan terpaksa menyesuaikan diri dengan ketergantungan pada pertumbuhan tahunan. Peningkatan hasil hutan akan sangat dibutuhkan yang dikarenakan meninkatnya penggunaan serat per kapita maupun akibat meningkatnya jumlah penduduk, dan satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan ini adalah bertanam pohon. Meningkatkan hasil kualitas secar maksimal berarti (1) menyediakan subsidi energi (mengindustrikan kehutanan), (2) monokultur dengan memanen satu jeis pohon secara bergilir pendek , (3) seleksi buatan atas jenis-jenis penghasil banyak serat, yang tergantun pada kecepatan tinggi pemupukan dan penggunaan pestisida (yang nantinya meningkatkan polusi secara menyeluruh dan bahaya wabah penyakit), dan (4) kemungkinan pengurangan kualitas.

Masalah penting yang perlu disadari adalah bahwa pertanian pohon di pihak yang satu, dengan hutan serbaguna yang berkembang alami dilain pihak memiliki ekosistem yang sama sekali berbeda, dalam hubungan dengan biaya perawatan dan dampaknya terhadap kebutuhan lingkungan manusia lainnya.

3. Pengelolaan satwa liar

Pernyataan “wildlife” (satwa liar) agakanya mengandung arti luas, yaitu mencakup segala macam kehidupan yang tidak dibudidayakan dan tidak dijinakkan. Saat ini keadaan satwa liat di Bumi dan Indonesia khususnya sudah semakin terabaikan. Contoh nyata yang bisa kita lihat sekarang adalah semakin terdesaknya habitat dari burung Kakatua putih jambul kuning di Nusa Penida yang merupakan habitat endemiknya.

Di Kalimantan kehidupan kawanan Gajah Kerdil yang hanya ada di Kalimantan terganggu dan terancam akibat dari hilangnya hutan dan terpisah-pisahnya habitatnya yang disebabkan oleh perubahan penggunaan dan tutupan lahan. Kehidupan kawanan Gajah ini sangat tergantung kepada hutan tropis di daerah Kalimantan tersebut, akan tetapi hutan daerah Kalimantan sekarang sudah banyak beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit dan karet.

Indonesia merupakan tempat hidup sekitar 17% satwa di dunia, dimana Indonesia menempati urutan pertama dalam hal kekayaan mamalia (515 jenis), menjadi habitat dari sekitar 1539 jenis burung dan 45% ikan di dunia. Namun dilain pihak Indonesia juga merupakan daerah yang rawan bagai satwa-satwa tersebut. Dimana satwa liar di Indonesia yang terancam punah adalah 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan dan 28 jenis invertebrata (IUCN, 2003 dalam profauna.or.id, 2007).

Hal ini dapat membawa kita pada pokok masalah bahwa usaha untuk membantu peningkatan dan meningkatkan populasi satwa liar biasanya diarahkan pada empat garis utama: (1) perlindungan terhadap binatang pembiak, dengan jalan membuat undang-undang untuk membatasi pemanenan, dan usaha-usaha lain, (2) pembiakan buatan, (3) perbaikan habitat, dan (4) beternak binatang peburuan

4. Budidaya air

Bila populasi liar dimanfaatkan sampai pada batasnya, dan berkurang karena pengambilan ikan yang melampaui batas, maka tentu saja perhatian akan beralih kepadapemeliharaan ikan, atau budidaya air, terutama karena budidaya semacam itu dapat merupakan cara yang efisien untuk memproduksi pangan protein.

Budidaya air untuk keperluan makanan, seperti yang kini dilakukan di Jepang, melibatkan ekosistem yang sangat berbeda dengan budidaya untuk keperluan pemancingan. Yang pertama didasarkan atas rantai makanan yang pendek, ditopang oleh banyak masukan pupuk, pakan, benih dari tempat pembenihan dan enrgi kerja. Salah satu harapan paling cerah untuk budidaya air pada negara makmur adalah menampung buangan dari jenis-jenis tertentu dari limbah organik rumah tangga dan industri yang terlebur atau diolah sebagian, yang mengalir serangkaian kolam dapat memberikan subsidi untuk jenis-jenis ikan dan organisme lain yang telah beradaptasi, yang dapat menghasilkan makanan untuk manusia atau binatang, atau produk berguna lainnya. Ini bagian dari konsep “taman pengelolaan limbah”. Budidaya air yang diatur secara demikian dapat membantu mengubah polusi menjadi sumberdaya.

5. Pengelolaan padang

Padang rumput-padang rumput menutupi daerah yang sangat luas, dan sangat penting dari segi pandangan manusia. Pdang rumput-padang rumput merupakan pangonan alami untuk binatang-binatang yang merumput, dan tumbuh-tumbuhan pangan pertanian pokok telah telah diperkembangkan oleh pemilihan buatan dari rumpu-rumput. Padang rumput-padang rumput terjadi dimana curah hujan terlalu rendah untuk mendukung bentuk hidup hutan tetapi lebih tinggi dari yang mengakibatkan bentuk-bentuk hidup gurun. Pada umumnya curah hujan itu rata-rata antara 10 sampai 30 inchi, tergantung pada temperatur dan penyebaran musiman. Meskipun demikian, padang rumput-padang rumput juga terjadi dalam daerah-daerah iklim hutan dimana faktor-faktor edafik seperti misalnya permukaan air tinggi atau kebakaran yang menguntungkan rumput dalam persaingan dengantumbuh-tumbuhan berkayu. Tanah-tanah padang rumpt sangat khas dan mengandung jumlah besar humus.

Pdang rumput biasanya digunakan untuk peternakan binatang pemakan rumput. Untuk menentukkan daya dukung padang terhadap binatang-binatang tersebut, terdapat dua pertimbangan yang harus dilihat, yaitu (1) produktivitas primer dan (2) presentasi produktivitas bersih yang dapat dihasilkan setia tahun, dengan tetap meninggalkan tumbuhan rumput cukup sebagai cadangan untuk memungkinkannya untuk melakukan produktivitas dimasa yang akan datang, dan terutama untuk mengtasi tekanan pada waktu-waktu tertentu, pada saat udara kurang baik.

Pengelolaan padang rumput harus dilakukan dengan tepat. Pembasmian hama, penyakit dan gulma harus dilakukan dengan sistem pemilahan, bila hal ini tidak dilakukan akan ada kemungkinan ketidak seimbangan ekosistem yang dapat merusak ekosistem padang.

Peranan kebakaran dalam pengelolaan sangatlah penting. Di bawah keadaan lembab api lebih membantu ruput dari pada pohon, dan dibawah keadaan kering api sering diperlukan untuk mempertahankan padang rumput terhadap invasisemak-semak gurun. Api mempunyai manfaat dalam dalam pertanian padang rumput seperti yang diharapkan. Norris (1968) misalnya mendapatkan bahwa pembakaran rumput Bermuda (Cynodon dactylon) pada akhir musim dingin atau pada awal musim semi meningkatkan hasil makanan ternak ketika pemupukan berat dilakukan.

Pengelolaan padang rumput untuk peternakan tidak harus selalu diiringin dengan peternakan dengan jumlah maksimal. Apabila hal ini dilakukan maka kulitas binatang pemilaharaan akan berkurang, selain itu kerusakan lingkungan secara jangka panjang yang tidak sebanding dengan keuntungan jangka pendek yang diperoleh. Hal ini disebabkan oleh pemadatan tanah akibat injakan binatang yang jumlahnya maksimal tersebut.

6. Cuaca

Cuaca dan iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik dan dinamis di atmosfer bumi ini akibat dari perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu (Winarso, 2003). Perpaduan antara proses-proses tersebut dengan unsur-unsur iklim dan faktor pengendali iklim menyebabkan kondisi cuaca dan iklim selalu bervariasi dalam jumlah, intensitas dan distribusinya. Eksploitasi lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan serta pertambahan jumlah penduduk bumi yang berhubungan secara langsung dengan penambahan gas rumah kaca secara global akan meningkatkan variasi iklim tersebut. Keadaan ini mempercepat terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan penyimpangan iklim dari kondisi normal sehingga memunculkan fenomena penyimpangan iklim yang salah satunya adalah El Nino dan La Nina.

Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan. Selain perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal (Irianto, 2003).

Peningkatan Gas Rumah Kaca di atmosfer telah menyebabkan anomali cuaca yang sangat ekstrim yang menuju ke perubahan iklim. Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalah kehidupan ini, iklim dapat membedakan suatu ekosistem, dan apabila iklim mengalami perubahan ekosistempun akan berubah. Di pegubungan Olympic Washington, tanaman-tanaman hutan yang biasanya berada di kaki pegunungan saat ini populasinya telah berpindah ke daerah lebih dingin di atasnya yang biasa ditempati oleh ekosistem padang rumput. Hal ini terjadi untuk beradaptasi dengan suhu yang diterima di bagian kaki gunung.

7. Tata guna lahan

Jika populasi manusia di suatu daerah kecil, tata guna lahan yang tidak baik mungkin hanya berakibat pada orang-orang bersalah karena pertimbangan buruk. Tetapi jika populasi meningkat, setiap orang akan menderita jika lahan yang digunakan secara tidak semestinya, karena setiap orang akan akhirnya harus membayar perbaikannya, atau seperti yang sering kali terjadi, setiap orang sama sekali kehilangan sumber daya.

Sejauh ini, perencanaan tata guna lahan yang baik baru dilakukan oleh manusia setelah sangat merusakan lahan terlebih dahulu. Dan proses perbaikannya harus secara menyeluruh dalam suatu areal dan batasan yang laus seperti suatu daerah aliran sungai yang luas yang dibatasi oleh pungung bukit tertinggi.

Dalam melaksanakan program perencanaan penggunaan lahan yang baik, klasifikasi kemampuan lahan sangat diperlukan. Hal ini untuk mencegah terjadinya pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Pembagian kemampuan lahan ini didasarkan pada jenis tanah, geologi serta biotik alam. Di Indonesia sendiri klasifikasi kemapuan lahan ini telah dilakukan oleh Arsyad (1989) yang membagi kelas kemampuan lahan serta pemanfaatannya dengan 8 kelas yaitu:

Kelas I

Lahan kelas I sesuai berbagai penggunaan pertanian, mulai dari tanaman semusim, tanaman rumput, hutan, dan cagar alam. Suatu tanah dapat dimasukkan kedalam kelas I jika bertopografi hampir datar, daerah perakaran dalam, permeabilitas dan kapasitas menahan air yang baik dan mudah diolah. Tanah yang kelebihan air dan mempunyai lapisan bawah yang permeabilitasnya lambat tidak dimasukkan ke dalam kelas I.

Kelas II

Tanah-tanah dalam kelas II mungkin memerlukan sistem pertanaman konservasi khusus, tindakan-tindakan pencegahan erosi, pengendalian air lebih atau metode pengolahan jika dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang memerlukan pengolahan tanah. Jadi tanah-tanah dalam kelas ini memberikan pilihan penggunaan yang kurang dan tuntutan pengelolaan yang lebih berat dari tanah kelas I kepada penggarap. Hambatan atau ancaman kerusakan pada kelas II adalah salah satu kombinasi dari pengaruh berikut : lereng yang landai, kepekaan erosi atau ancaman erosi sedang, struktur tanah agak kurang baik, adanya banjir, kelebihan air dan keadaan iklim agak kurang sesuai bagi tanaman dan pengelolaan.

Kelas III

Lahan kelas III dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tanaman rumput, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung, dan suaka margasatwa. Hambatan atau ancaman kerusakan pada kelas III adalah salah satu kombinasi dari pengaruh berikut: lereng yang agak miring sampai bergelombang, kepekaan erosi atau ancaman erosi yang agak berat, kedalaman dangkal, adanya banjir, kelebihan air dan permeabilitas lambat dan keadaan iklim agak kurang sesuai bagi tanaman dan pengelolaan.

Kelas IV

Hambatan dan ancaman kerusakan pada tanah-tanah di dalam lahan kelas IV lebih besar daripada tanah-tanah didalam kelas III dan pilihan tanaman juga lebih terbatas. Jika dipergunakan untuk tanaman semusim diperlukan pengelolaan yang lebih hati-hati. Tanah di dalam kelas IV dapat dipergunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian pada umumnya, tanaman rumput, hutan produksi, padang penggembalaan dan hutan lindung atau suaka alam. Hambatan atau ancaman kerusakan pada kelas IV adalah salah satu kombinasi dari pengaruh berikut : lereng yang miring sampai berbukit, kepekaan erosi atau ancaman erosi yang lebih besar, tanahnya dangkal, kapasitas menahan air rendah, kelebihan air, salinitas tinggi, dan keadaan iklim agak kurang menguntungkan.

Kelas V

Tanah-tanah pada kelas ini tidak terancam erosi akan tetapi mempunyai hambatan lain yang tidak praktis untuk dihilangkan sehingga hanya sesuai untuk tanaman rumput, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam. Hambatan atau ancaman kerusakan pada kelas V adalah satu kombinasi dari pengaruh berikut: lereng datar, sering terlanda banjir sehingga sulit untuk ditanami tanaman semusim secara normal, tetapi dapat ditumbuhi rumput atau pohon-pohonan, tanah yang berbatu dan tanah yang tergenang.

Kelas VI

Tanah-tanah pada kelas VI mempunyai hambatan yang berat yang menyebabkan tanah-tanah ini tidak sesuai untuk penggunaan pertanian, penggunaannya terbatas untuk tanaman rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam. Tanah-tanah kelas VI mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan yang berat dan tidak dapat dihilangkan seperti: lereng yang agak curang, ancaman erosi berat, telah tererosi berat, berbatu, iklim tidak sesuai, dan perakaran sangat dangkal.

Kelas VII

Lahan kelas VII tidak sesuai untuk budidaya pertanian. Jika dipergunakan untuk padang rumput atau hutan produksi harus dilakukan usaha pencegahan erosi yang berat. Tanah-tanah dalam lahan kelas VII yang dalam dan tidak peka erosi juga dipergunakan untuk tanaman pertanian harus dibuat teras bangku yang ditunjang dengan cara-cara vegetatif untuk konservasi tanah, disamping tindakan pemupukan. Tanah-tanah kelas VII mempunyai beberapa hambatan atau ancaman kerusakan yang berat dan tidak dapat dihilangkan seperti: lereng yang curam telah tererosi berupa erosi parit dan perakaran sangat dangkal. Pada peta kelas kemampuan lahan, lahan kelas VII biasanya diberi warna coklat.

Kelas VIII

Lahan kelas VIII tidak sesuai untuk budidaya pertanian, tetapi lebih sesuai untuk dibiarkan dalam keadaan alami. Lahan kelas VIII bermanfaat sebagai hutan lindung, tempat rekreasi atau cagar alam. Pembatas atau ancaman kerusakan pada kelas VIII dapat berupa: terletak pada lereng yang sangat curam, berbatu, kapasitas menahan air sangat rendah.

Perencanaan penggunaan lahan sangat penting, contoh yang paling umum dilakukan adalah pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Suatu areal DAS merupakan daerah yang menentukkan bagi kehidupan banyak individu. Bila daerah DAS telah rusak, maka kehidupan ekosistem di daerah tersebut juga akan terganggu. DAS yang rusak dicirikan oleh adanya lahan kritis dengan erosi yang tinggi. Penebangan hutan, pemanfaatan lahan yang tidak sesuai kemampuannya akan dapat menyebabkan rusaknya lahan-lahan tersebut. Bila keadaan ini terjadi, ketersediaan sumber air akan semakin berkurang, sedimentasi di sungai semakin tinggi, dan di daerah hulu sungai kemungkinan banjir akan semakin tinggi.

Perencanaan tata guna lahan untuk daerah perkotaan juga sangat diperlukan. Peningkatan jumlah penduduk dapat menyebabkan tidak terkendalinya perubahan penggunaan lahan di daerah perkotaan. Bila hal ini terjadi, maka semakin banyak lahan yang dikonversi menjadi lahan untuk pemukiman dan akibatnya adalah semakin sedikitnya lahan yang berfungsi sebagai penyerap air dan akhirnya kemungkinan banjir semakin tinggi. Perencanaan kota yang baik akan menentukan kualitas loingkungan itu sendiri, semakin baik perencanaan kota, maka kualitas lingkungan perkotaan akan semakin baik.

Jika kita kembali kepada totalitas panorma perkotaan dan pedesaan, jelas bahwa (1) wilayah alami yang terbuka merupakan bagian yang diperlukan dari keseluruhan lingkungan manusia dan (2) perencanaan tata guna lahan dapat merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah kelebihan populasi bagi jenis kita sendiri dengan memberikan sesuatu yang mirip pengendalian “teritorial”.

Pranala di Blog ini:


Ilmu Tanah
Tanah dan Lahan
Tanah
Susunan Utama Tanah
Segitiga Tekstur
Evaluasi Lahan
SUMBERDAYA
Pertanian Berkelanjutan
Pertanian Organik, Latar Belakangnya
Resep Pembuatan Kascing Dari Segi Ilmu Tanah
LAHAN KERING
Konservasi Tanah dan Air di Lahan Kering
Konservasi Tanah di Pulau Nusa Penida
EROSI DAN PERUBAHAN IKLIM
Pengaruh Tutupan Kanopi terhadap Besarnya Erosi Tanah
Prediksi Erosi dengan USLE dan Sistem Informasi Geografi
Klimatologi untuk Pertanian
Klasifikasi Iklim
MIKORIZA
Mikoriza, Tanah dan Tanaman di Lahan Kering
PERTANIAN PADA MASA BALI KUNO
Sejarah FOKUSHIMITI (Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Indonesia)
Struktur Organisasi FOKUSHIMITI
Potensi Sampah Kota Sebagai Sumber Bahan Organik
Sampah dan Permasalahannya
Sistem Informasi Geografi (SIG)/Geographic Information System (GIS)
Aplikasi GIS untuk Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
Implementasi SIG dalam Menunjang Pertanian Berkelanjutan
Peta Jenis Tanah Bali
Evaluasi Kesesuaian Curah Hujan, Temperatur dan Ketinggian untuk Tanaman Pisang dengan GIS
Aplikasi SIG dalam Proses Perencanaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • counter
  • Add to My Yahoo!
  • Powered by WordPress - WordPress Blogs Directory
  • Top Academics blogs
  • Bookmark and Share
  • Monitored by Pingdom
  • Review www.mbojo.wordpress.com on alexa.com
  • free counters
  • Read this FREE online!