Gas Metan (Methane Gas): Masa Hidup dan Sumbernya

Peta Sebaran Gas Metan Secara Global

Selain gas CO2, gas metan merupakan gas yang sangat penting dalam hubungannya sebagai gas rumah kaca (GRK). Gas ini mampu memerangkap panas 21 kali lebih kuat dibandingkan dengan gas CO2 (nilai GWP – The Greenhouse Warming Potential – gas metan adalah 21, CO2 nilai GWPnya 1 sedangkan NO2 nilai GWPnya adalah 310) (Hardy, 2003), akan tetapi masa hidup gas ini di atmosfer cukup pendek yaitu 7,9 tahun dan bila kita bandingkan dengan gas CO2 yang mencapai 50-200 tahun, NO2 adalah 120 tahun, CFC-11 adalah 50 tahun, dan CFC-12 adalah 102 tahun (Lelieveld et al., 1998; Hardy, 2003).

Gas metan diproduksi oleh mikrobia dalam keadaan anaerob. Secara alamiah lahan gambut, rawa dan sediment di daerah pantai merupakan sumber utama dari gas metan di atmosfer (Hardy, 2003), akan tetapi manusia juga berperan penting terhadap peningkatan gas metan di atmosfer, terutama sejak jaman pra industri yaitu melalui kegiatan-kegiatan peternakan, pertanian padi sawah, sampah, pembakaran batubara dan penggunaan minyak bumi. Baca entri selengkapnya »

Studi Tentang Proses pertukaran CO2 dan Interaksinya antara Atmosfer dan Lautan Menggunakan Citra ALOS/PALSAR

STUDY OF AIR-SEA INTERACTION AND CO2 EXCHANGE PROCESS BETWEEN THE ATMOSPHERE AND OCEAN USING ALOS/PALSAR
(Study Cases of Wind Wave Bubbling Process in Badung and Lombok Straits)

Ni Wayan Ekayanti, Takahiro Osawa, I Wayan Kasa, and A. Rahman As-syakur

ABSTRAK

CO2 ExchangePeningkatan CO2 di atmosfer yang berpotensi menghasilkan pemanasan global telah menjadi perhatian bagi kehidupan manusia. Lautan mengandung lima puluh kali lebih besar CO2 daripada atmosfer dan menjadi penyangga yang membatasi konsentrasi CO2 dalam atmosfer. CO2 mengalami perubahan secara terus menerus antara udara-lautan dan konsentrasi CO2 di dalam laut dikendalikan oleh parameter fisika, kimia, dan biologi. Perubahan konsentrasi CO2 antara udara-lautan dapat ditentukan dari interaksi gas dan perbedaan konsentrasi CO2 antara udara-lautan. Perubahan CO2 antara udara-lautan dapat dikaji dari studi kecepatan angin, koefisien gesekan kecepatan angin yang diperoleh dari satelit ALOS/PALSAR di daerah Selat Badung dan Selat Lombok, salinitas, dan juga dengan SST yang diperoleh dari satelit MODIS. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien perubahan CO2, perbedaan tekanan CO2 antara udara-lautan, dan CO2 flux antara udara-lautan secara berturut-turut adalah 0.303±0.006 (rata-rata ± standar deviasi) (mol m-2 month-1µatm-1), 17.94±10.79 μatm, and 5.35±3.26 (mol m-2 month-1), dengan nilai maksimum dan minimum dari koefisien perubahan CO2 secara berturut-turut terjadi pada bulan Agustus dan Februari.

Kata kunci: CO2 flux, koefisien pertukaran CO2, perbedaan tekanan CO2, suhu permukaan laut (SST). Baca entri selengkapnya »

KONTRIBUSI MANUSIA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN LINGKUNGAN

Berdasarkan laporan IPCC tahun 2007 kemungkinan manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim adalah sebesar 90%, keadaan ini lebih tinggi dari laporan terakhir dari IPCC pada tahun 2001 dimana kemungkinan manusia sebagai penyebab perubahan iklim adalah sebesar 60%. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa penyebab utama terjadinya peningkatan Gas Rumah Kaca (GRK) seperti peningkatan gas Carbon Dioksida yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan dari lahan hutan menjadi lahan yang bernilai ekonomi seperti pemukiman dan perkebunan, sedangkan peningkatan gas metan dan gas dinitrogen oksida disebabkan oleh aktivitas pertanian.

Akan tetapi selain merupakan penyebab perubahan iklim, manusia juga merupakan mahluk yang berusaha menghambat perubahan iklim tersebut. Baca entri selengkapnya »

Hati-hati kemungkinan adanya El Nino dan kemarau panjang tahun ini

Berdasarkan prediksi pada anomaly iklim El Nino dan La Nina bulan Februari 2009 oleh The International Research Institute for Climate and Society pada bulan juni ini diperkirakan anomali suhu permukaan laut samudera pasifik (Nino 3.4) akan berada di atas 0 (nol) derajat, dan keadaan itu benar2 terjadi pada bulan juni ini. Dan diperkirakan akan terus meningkat sampai pada bulan Oktober 2009. meningkatnya suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 menggambarkan terjadinya kondisi El Nino untuk daerah sekitarnya. Dan untuk Indonesia, kejadian El Nino akan mengakibatkan kemarau yang berkepanjangan, kegagalan panen, hutan yang terbakar dan juga kekurangan pangan.

Hasil-hasil model prediksi tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah. Dan semoga kita bisa merencanakan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut sehingga kerugiannya tidak terlalu besar. Misalnya dengan menyetok kebutuhan pokok seperti beras, merencanakan penanaman tanaman yg tahan kekeringan seperti jagung dan kedelai, serta berusaha menghemat air Baca entri selengkapnya »

Pemanasan Global (Catatan mengenai cara menggurangi dampaknya)

Masalah terbesar bukan tentang teknologi atau biaya, tetapi mengatasi hambatan politik, sosial dan perilaku dalam upaya mengurangi emisi (Bert Metz dan Detlef van Vuuren)”


bumiPada tulisan Pemanasan Global (Catatan mengenai sebabnya), ditulis beberapa teori tentang penyebab pemanasan global atau khususnya peningkatan gas rumah kaca, lebih khususnya lagi gas CO2 itu adalah manusia, aktivitas gunung api dan juga pemanasan permukaan laut. Dua sebab yang terakhir jelas kita ga bisa ngapa2in karena itu adalah proses alam. Kita cuman bisa pasrah dan berusaha cepat beradaptasi. Tapi klo yang disebabkan oleh manusia, kita masih masih bisa bertindak, karena itu adalah kita sendiri. Untuk pemanasan permukaan laut, sebagian ahli menganggap bahwa itu adalah efek domino dari pemanasan global. Tapi sampai sekarang belum diketahui mana yang duluan, pemanasan muka air laut atau peningkatan gas CO2. seperti pertanyaan mana yang lebih dulu telur atau ayam :D

Kita fokus kemanusianya aja dah, kan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2007 dah mengeluarkan maklumat klo kemungkinan manusia yang menyebabkan perubahan iklim itu sekitar 90% dimana penyebab utama terjadinya peningkatan Gas Rumah Kaca (GRK) seperti peningkatan gas Carbon Dioksida yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan dari lahan hutan menjadi lahan yang bernilai ekonomi seperti pemukiman dan perkebunan, sedangkan peningkatan gas metan dan gas dinitrogen oksida disebabkan oleh aktivitas pertanian dan peternakan. Gas metan juga dihasilkan oleh pembusukan sampah. Jadi bisa dah kita simpulin klo peningkatan gas rumah kaca itu akibat kesalahan manusia dalam pengelolaan energi, hutan, pertanian, peternakan dan juga sampah. Baca entri selengkapnya »

PERTUKARAN CO2 ANTARA ATMOSFER DAN LAUT: Eksplorasi Data Penginderaan Jauh – Kecepatan transfer gas CO2

imagesCerita ini merupakan sekelumit pandangan ttng eksplorasi data PJ untuk informasi perubahan iklim dan pemanasan global, khususnya ttng daur karbon dan kecepatan pertukaran gas CO2 antara laut-atmosfer…. yang merupakan sambungan dari cerita awal yang berjudul PERTUKARAN CO2 ANTARA ATMOSFER DAN LAUT: Pendahuluan

Penginderaan jauh atau PJ atau juga remote sensing atau RS…. dah bnyak kyaknya yg mnulis ttng penginderaan jauh, seperti yg dah ditulis disini, tp sekedar mngingatkan aja… PJ merupakan ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek (Sabins, 1996 dalam Kerle, et al., 2004). Keuntungannya bila PJ ini diaplikasikan dilaut, kita ga perlu harus mengarungi lautan tiap kilometer persegi untuk mengetahui kondisi-kondisi fisik lautan, tp cukup dengan melihat data-data PJ, akan tetapi data-data PJ ini mempunyai batas atau tingkat keakuratan sehinga perlu juga ke laut untuk mngecek tingkat akurasinya… tp kelautanya cuman ngambil beberapa sampel aja :D . Baca entri selengkapnya »

EVALUASI ZONA AGROKLIMAT KLASIFIKASI SCHIMIDT-FERGUSON DI PULAU LOMBOK

EVALUASI ZONA AGROKLIMAT DARI KLASIFIKASI SCHIMIDT-FERGUSON MENGGUNAKAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)

Abd. Rahman As-syakur
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Udayana
Jln. PB Sudirman Denpasar. Telp (0361) 236221, Fax (0361) 236180

Abstrak

Tulisan ini menguraikan tentang evaluasi data agroklimat klasifikasi Schmid-Ferguson di Pulau Lombok berdasarkan data-data curah hujan terbaru. Metode yang digunakan adalah interpolasi atau ektrapolasi dengan aplikasi SIG. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan luas untuk zona-zona dengan tipe C sebesar 109.432% dan tipe D sebesar 51.571% sedangkan penurunan luas terjadi pada zona-zona dengan tipe E sebesar 0.908% dan tipe F sebesar 36.194%. Tipe iklim E merupakan tipe iklim dominan di Pulau lombok dengan presentase masing 47.97 dari luas Pulau Lombok. Tipe D, E dan C masing-masing mempunyai persentase 29.11, 22.12 dan 5.81. Aplikasi SIG dapat mepermudah dalam penginterpolasian titik, Akan tetapi kelemahan peta isohyet yang dihasilkan oleh SIG tidak memperhitungkan faktor-faktor lain penyebab hujan selain faktor yang dimasukkan sebagai input data.

Kata Kunci: hujan, klasifikasii iklim Oldeman, Sistem Informasi Geografi Baca entri selengkapnya »

PERTUKARAN CO2 ANTARA ATMOSFER DAN LAUT: Pendahuluan

Lautan menyerap CO2 dari atmosfer sekitar 2.2 giga ton per tahun atau 30% dari total CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia (JGOFS, 2000). CO2 yang masuk kedalam laut berbentuk asam karbonat (carbonic acid) yang akan membuat laut semakin asam. Hal ini akan membuat pH air laut turun dan juga menurunkan konsentrasi ion karbonat. Berkurangnya ion karbonat akan menurunkan kemampuan karang untuk membangun kerangka dan struktur kerang – tulang punggung gugusan koral.

Pertukaran CO2 dilautan dalam skala global sebenarnya seimbang, akan tetapi pengaruh keadaan setempat seperti fluktuasi suhu permukaan laut, tingkat kegaraman (salinitas), kecepatan angin, kandungan CO2 di atmosfer dan lautan, reaksi kimia dengan spesies dipermukaan laut serta aktivitas biologi lautan mempengaruhi besarnya fluktuasi CO2 antara lautan dan atmosfer. Secara umum terdapat selisih negatif antara jumlah CO2 yang dilepaskan ke atmosfer oleh lautan dengan jumlah CO2 yang masuk ke lautan dari atmosfer. Baca entri selengkapnya »

EROSI DAN PERUBAHAN IKLIM

Sebagai suatu sistem yang dinamis, tanah akan selalu mengalami perubahan-perubahan yaitu perubahan segi fisik, kimia ataupun biologi tanahnya. Perubahan-perubahan ini terutama terjadi karena pengaruh berbagai unsur iklim, tetapi tidak sedikit pula yang dipercepat oleh tindakan atau perlakuan manusia. Kerusakan tubuh tanah mengakibatkan berlangsungnya perubahan-perubahan yang berlebihan misalnya kerusakan dengan lenyapnya lapisan olah tanah yang dikenal dengan erosi (Sutedjo, 2002).

Daerah yang paling banyak mengalami erosi umumnya terbatas pada daerah di antara 40o Lintang Utara dan 40o Lintang Selatan. Keadaan iklim menentukan kecendrungan terjadinya erosi yang mencerminkan keadaan pola hujan. Selain pola hujan, jenis dan pertumbuhan vegetasi serta jenis tanah juga mempengaruhi erosi di daerah tropis (Arsyad, 1989). Dalam buku yang sama, Arsyad (1989) juga mengatakan bahwa hujan merupakan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap erosi di indonesia, dimana besarnya curah hujan, intensitas dan distribusi hujan menentukan kekuatan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan erosi. Baca entri selengkapnya »

Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Global warmingSecara umum iklim sebagai hasil interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik parameternya, seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi   pada suatu tempat di muka bumi. Untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, menurut ukuran internasional diperlukan nilai rata-rata parameternya selama kurang lebih 30 tahun. Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografi suatu daerah.  Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya (MenLH, 2003). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Klimatologi. 20 Komentar »
  • counter
  • Add to My Yahoo!
  • Powered by WordPress - WordPress Blogs Directory
  • Top Academics blogs
  • Bookmark and Share
  • IP
  • free counters
  • RSS IlmuKomputer.Com

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Berita hari ini

  • RSS Berita Iptek Online

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Read this FREE online!