Gas Metan (Methane Gas): Masa Hidup dan Sumbernya

Peta Sebaran Gas Metan Secara Global

Selain gas CO2, gas metan merupakan gas yang sangat penting dalam hubungannya sebagai gas rumah kaca (GRK). Gas ini mampu memerangkap panas 21 kali lebih kuat dibandingkan dengan gas CO2 (nilai GWP – The Greenhouse Warming Potential – gas metan adalah 21, CO2 nilai GWPnya 1 sedangkan NO2 nilai GWPnya adalah 310) (Hardy, 2003), akan tetapi masa hidup gas ini di atmosfer cukup pendek yaitu 7,9 tahun dan bila kita bandingkan dengan gas CO2 yang mencapai 50-200 tahun, NO2 adalah 120 tahun, CFC-11 adalah 50 tahun, dan CFC-12 adalah 102 tahun (Lelieveld et al., 1998; Hardy, 2003).

Gas metan diproduksi oleh mikrobia dalam keadaan anaerob. Secara alamiah lahan gambut, rawa dan sediment di daerah pantai merupakan sumber utama dari gas metan di atmosfer (Hardy, 2003), akan tetapi manusia juga berperan penting terhadap peningkatan gas metan di atmosfer, terutama sejak jaman pra industri yaitu melalui kegiatan-kegiatan peternakan, pertanian padi sawah, sampah, pembakaran batubara dan penggunaan minyak bumi.

Sebagian besar gas metan di atmosfer hilang bersama proses oksidasi oleh hydroxyl radikal (OH) di troposfer dan sekitar 7-11% hilang di stratosfer, selain itu CH4 yang dikonsumsi oleh bakteri ditanah menyumbang menghilangkan CH4 atmosfer sekitar 1-10% (Lelieveld et al., 1998)

Jumlah gas metan (CH4) di atmosfer adalah sekitar 4850 Tg CH4 (1 Tg = 10E12 g = 1 juta ton) dan rata-rata emisi gas metan secara global adalah sekitar 500-600 Tg per tahun (Yamaji et al., 2003; Butenhoff and Khalil, 2007). Dari 600 Tg CH4 yang diemisikan tersebut 24,17 persen (145 Tg) berasal dari lahan gambut, penggunaan energi sekitar 18,33 persen (110 Tg), emisi dari padi sawah sekitar 13,33 persen (80 Tg) dan Peternakan sekitar 13,33 persen (80 Tg) (Lelieveld et al., 1998).

Hasil hitung-hitungan oleh Yamaji et al. (2003) terhadap emisi gas metan dari seluruh kegiatan peternakan di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Timur menunjukkan bahwa emisi gas metan untuk wilayah ini mencapai 29,9 Tg CH4 per tahun atau sekitar 32 persen dari total emisi peternakan yang dihasilkan secara global. Dimana Negara India merupakan penyumbang tersebesar gas ini yaitu sebesar 11,77 Tg pertahun dan Cina menempati urutan kedua yaitu 10,40 Tg per tahun. Urutan ketiga ditempati oleh Pakistan yaitu sebesar 1,85 Tg per tahun, dan urutan ke empat oleh Negara Banglades sebesar 0,94 Tg per tahun.

Indonesia berada di urutan ke lima yaitu sebesar 0,85 Tg CH4 per tahun dimana peternakan sapi menyumbang emisi CH4 paling besar untuk wilayah Indonesia yaitu sebesar 0,55 Tg per tahun. Yamaji et al. (2003) juga membuat peta sebaran emisi yang disumbangkan oleh kegiatan peternakan yang dapat dilihat pada gambar di bawah. Satuan emisinya adalah dalam Gg CH4 per tahun (1 Gg = 10E9 = 1000 Ton).

Peta Metan

Keppler et al. (2006) menghitung emisi gas metan yang disebabkan oleh tanaman pada kondisi aerobik, dan hasil estimasinya menunjukkan bahwa vegetasi mengemisikan gas metan sebesar 149 Tg CH4 per tahun dimana hutan tropis sebagai penyumbang paling besar yaitu sekitar 78,2 Tg per tahun dan padang rumput tropis sebagai penyumbang terbesar kedua yaitu sebesar 29.2 Tg per tahun. Akan tetapi hasil perhitungan Parsons et al. (2006), vegetasi secara global menyumbang emisi CO2 hanya sebesar 52,7 Tg CH4 per tahun. Perhitungan ini lebih dekat dengan hasil perhitungan Butenhoff and Khalil (2007) untuk vegetasi yaitu sebesar 14-60 Tg CH4 pertahun.

Pertanian padi sawah, khususnya sawah teririgasi juga merupakan penyumbang terbesar gas metan ke atmosfer. Secara global diperkirakan sekitar 18 sampai 280 Tg gas metan per tahun dilepas ke atmosfer oleh pertanian padi sawah (Bachelet and Neue, 1993). Sedangkan IPCC (1992) memperkirakan sekitar 100 Tg gas metan per tahun yang dilepas oleh lahan padi sawah di seluruh dunia (Neue et al., 1996; Wassmann et al, 1993). Kondisi lahan sawah yang tergenang menyebabkan kondisi lingkungan yang sangat baik bagi terbentuknya gas metan. Dari 18 negara penghasil beras di Asia, Indonesia menempati urutan ke enam penghasil gas metan bersama Negara Myanmar, dimana setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,7 Tg gas metan setiap tahunnya (Bachelet and Neue, 1993). Akan tetapi hasil estimasi Husin et al. (1995) total emisi gas metan oleh Indonesia adalah 4 Tg per tahun. Kondisi ini masih jauh dari emisi gas metan yang dihasikan oleh India dan Cina dimana setiap tahunnya negara-negara tersebut mengemisikan gas metan sebesar 27,6 Tg dan 21,6 Tg per tahun (Bachelet and Neue, 1993).

Pada tahun-tahun sebelumnya sumber gas metan dari geologi biasanya tidak dipertimbangkan, akan tetapi akhir2 ini sumber gas tersebut dipertimbangkan khususnya dari kegiatan geothermal dan letusan gunung api. Dari hasil letusan gunung api diperkirakan sekitar 5 – 13 Tg per tahun gas metan dilepaskan ke atmosfer (Etiope and Milkov, 2004 dalam Etiope, 2004), sedangkan dari proses geothermal emisi gas metan per tahunnya diperkirakan sekitar 2,5-6,3 Tg (Etiope and Klusman, 2002 dalam Etiope et al., 2007). Di Eropa, diperkiran gas metan yang dilepaskan dari proses letusan gunung api dan geothermal adalah sekitar 4000-16000 ton per tahun dimana hanya sekitar 720 ton yang berasal dari letusan gunung api (Etiope et al., 2007). Dan dari seluruh kegitan geologi secara global, gas metan yang diemisikan di udara adalah sekitar  40-60 Tg per tahun (Etiope, 2004).

Mudah-mudahan sekelumit informasi ini berguna bagi semua orang agar kita selalu waspada akan bencana pemanasan global dan perubahan iklim. Serta agar kita senantiasa bisa memperikirakan efek dari apa yang kita perbuat dan kita rencanakan.

Daftar Pustaka

Bachelet, D., and H.U. Neue .1993. Methane Emissions from Wetland Rice Areas of Asia. Chemosphere, Vol.26, Nos. 1-4, pp 219-237

Butenhoff, C.L., and M.A.K. Khalil. 2007. Global Methane Emissions from Terrestrial Plants. Environ. Sci. Technol, 41. 4032-4037.

Etiope, G. 2004. New Directions: GEM-Geologic Emissions of Methane, the missing source in the atmospheric methane budget. Atmospheric Environment, 38. 3099–3100

Etiope, G., T. Fridriksson, F. Italiano, W. Winiwarter, and J. Theloke. 2007. Natural emissions of methane from geothermal and volcanic sources in Europe. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 165. 76–86

Hardy, J.T. 2003. Climate Change: Causes, Effects, and Solutions. John Wiley & Sons Ltd, The Atrium, Southern Gate, Chichester, West Sussex PO19 8SQ, England

Husin, Y.A., D. Murdiyarso, M.A.K. Khalil, R.A. Rasmussen, M.J. Shearer, S. Sabiham, A. Sunar, and H. Adijuwana. 1995. Methane Flux from Indonesian Wetland Rice: The Effects of Water Management and Rice Variety. Chemosphere, Vol. 31, No. 4, pp. 3153-3180

Keppler, F., J.T.G. Hamilton, M. Braß, and T. Ro¨ckmann. 2006. Methane emissions from terrestrial plants under aerobic conditions. Nature, 439. 187–191.

Lelieveld, J., P.J. Crutzen, and F.J. Dentener. 1998. Changing concentration, lifetime and climate forcing of atmospheric methane. Tellus, 50B. 128–150.

Neue, H.U., R. Wassmann, R.S. Lantin, MaC.R. Alberto, J.B. Aduna, and A.M. Javellana. 1996. Factors Affecting Methane Emission from Rice Fields. Atmospheric Environment, Vol. 30, Nos 10/11, pp. 1751 – 1754.

Parsons, A.J., P.C.D. Newton, H. Clark, and F.M. Kelliher. 2006. Scaling methane emissions from vegetation. Trends in Ecology and Evolution, Vol.21 No.8. 423-424.

Wassmann, R., H. Papen, and H. Rennenberg. 1993. Methane Emission from Rice Paddies and Possible Mitigation Strategies. Chemosphere, Vol.26, Nos. 1-4, pp 201-217.

Yamajia, K., T. Oharaa, and H. Akimoto. 2003. A country-specific, high-resolution emission inventory for methane from livestock in Asia in 2000. Atmospheric Environment, 37. 4393–4406.

Tinggalkan Balasan

  • counter
  • Add to My Yahoo!
  • Powered by WordPress - WordPress Blogs Directory
  • Top Academics blogs
  • Bookmark and Share
  • IP
  • free counters
  • RSS IlmuKomputer.Com

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS Berita hari ini

  • RSS Berita Iptek Online

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Read this FREE online!