Potensi Sampah Kota Sebagai Sumber Bahan Organik
September 25, 2007 — La AnSampah rumah tangga merupakan sumber yang potensial untuk dijadikan sumber bahan organik dan sampah rumah tangga yang terakumulasi dalam sampah kota sangat banyak. Sampah kota sangat menggagu pemandangan serta merupakan salah satu sumber pencemaran udara dan air, sumber penyakit serta mengganggu nilai estetika, dengan keadaan ini salah satu alternatif untuk mengurangi sampah kota adalah dengan cara memanfaatkannya sebagai sumber bahan organik tanah dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Sampah kota merupakan bahan organik dengan komposisi bahan yang sangat beragam antara lain dengan adanya kontaminasi bahan anorganik (gelas, plastik, logam) dan dengan nisbah C/N ratio yang cukup tinggi pula serta mengandung mikroba seperti bakteri, fungi, actinomycetes dan aptogen (Suntoro, 2003). Dari tabel di bawah kita bisa melihat komposisi sampah di Semarang, Bandung dan Jakarta (BPPT, 199
|
Komposisi (%) |
Semarang |
Bandung |
Jakarta |
|
Bahan Organik Kertas Plastik Logam Kulit Kayu Tekstil Gelas Lain-lain |
68.75 5.45 14.15 - - - - 0.16 5.97 |
73.25 9.70 8.58 0.50 0.40 3.60 0.90 0.43 2.64 |
73.92 10.18 7.86 2.04 0.55 0.98 1.57 1.75 1.22 |
Menurut Damanhuri (2002) bahwa 70% sampah padat kota di Indonesia merupakan sampah organik, 28% sampah anorganik dan hanya 2% dalam kategori sampah berbahaya. Dari 70% sampah organik sekitar 54% (38% dari total samapah) bersifat mudah didegradasi dan potensial untuk dikomposkan. TPS Tlogomas Malang produksi sampahnya sekitar 960 kg per hari dan sekitar 60 kg sampah organik yg bisa digunakan utk pembuatan kompos (Mustikaningrum dan Wahyuni, 2003)
Pada tahun 1995 setiap penduduk indonesia menghasilkan sampah rata2 0.8 kg/kapita per hari dan pada tahun 2020 nanti dperkirakan akan meningkat 2.1 kg/kapita per hari. Berdasarkan tabel dibawah (Damanhuri, 2002), kita bisa melihat jumlah sampah yg dihasilkan beberapa kota di Indonesia pada tahun 1997.
|
Kota |
Populasi |
L/kapita/hari |
Kg/kapita/hari |
|
Jakarta |
9.527.800 |
2.60 |
0.65 |
|
Surabaya |
2.837.000 |
2.40 |
0.60 |
|
Bandung |
2.501.500 |
3.30 |
0.83 |
|
Makasar |
1.300.000 |
2.40 |
0.60 |
Pemanfaatan sampah kota sebagai sumber bahan organik tanah sangat tergantung dari jenis sampah yg dihasil yang berhubungan dengan proses pelapukan sampah sebagai sumber pembuatan kompos. Pelapukan bahan organik sangat tergantung dari nilai nisbah C/N, semakin tinggi nisbah C/N maka akan semakin sulit bahan tersebut melapuk. Menurut Tisdale dan Nelson (1975) semua bahan organik dengan nisbah Carbon-Nitrogen (C/N) kurang dari 20 lebih cepat melepas nitrogen kedalam tanah sehingga lebih cepat terdekomposisi sedangkan bila nisbah C/N lebih dari 30 lebih susah terdekomposisi karena tertahannya Nitrogen. Selain itu komposisi sampah yag dilihat dari segi kandungan bahan seperti glukosa, lignin, lilin dan lain-lain juga berpengaruh dalam proses pengomposan. Menurut Mujiati, dkk (1989) Glukosa dan sejenisnya lebih mudah terurai dari pada lignin dan lilin.
Menurut Mustikaningrum dan Wahyuni (2003) dari total sampah kota organik, sekitar 60% merupakan sayur-sayuran dan 40% merupakan daun-daunan, kulit buah-buahan dan sisa makanan. Dengan tingginya komposisi sayur-sayuran ini dalam kandungan sampah justru menguntungkan dalam proses pengomposan karena bahan-bahan yang berupa sayur-sayuran mempunyai nisbah C/N rasio yang rendah seperti yang terlihat pada tabel di bawah (Siswati, 2002; Indriati, 2002; Purwatiningsih, 2002; Pujiwati, 2002)
|
Sayuran |
Kubis |
Lobak |
K. Panjang |
Buncis |
Kentang |
Terung |
Apel |
Turi |
|
C/N |
10 |
9 |
10 |
8 |
8 |
7 |
16 |
9 |


Mei 13, 2008 pukul 3:50 pm
teknologo sampah organik kotoran sapi sebagai pengganti minyak sangat penting untuk diketahiu oleh orang banyak untuk itu perlu di sosialisasikan terus, karena sangat bermanpaat pada masa susah sekarang ini .