Sampah adalah barang buangan. Menurut wikipedia sampah adalah materi sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses yang merupakan konsep buatan manusia. Sampah merupakan masalah bagi orang di seluruh dunia ini karena sampah merupakan suatu barang yg tidak terpakai lagi. Seiring dengan semakin tingginya populasi manusia, maka produksi sampah juga akan semakin tinggi. Hal itu tidak bisa dielakkan.
Sampah sebagai materi sisa jelas sudah tidak dibutuhkan lagi dan tidak memiliki nilai ekonomi, sedangkan kesadara masyarakat sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya juga masih rendah. Masalah lainnya dari sampah adalah penanganan sampah. Selama ini sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, sedangkan pemerintah sendiri kekurangan dana, teknologi dan sumberdaya manusia untuk pengangan sampah itu sendiri. Biaya retribusi yg selama ini di bayar oleh masyarakat diakuin oleh pemerintah hanya menutupi 10% dari biaya penanganan sampah. Tempat pembuangan sampah (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA) serta tong-tong sampah selama ini selalu di tolak keberadaannya oleh masyarakat. Secara logika siapa sih yg mau hidup berdampingan dengan tempat sampah. Apakah anda mau? Akibatnya, karena tidak ada yg mau hidup berdampingan dengan tempat sampah maka lahan untuk TPA dan TPS serta tempat2 utk tong-tong sampah sangat sulit didapatkan, oleh karenanya sampahpun dibuang disembarang tempat.
Karena tidak bernilai ekonomi inilah yang menyebabkan sampah itu akan semakin banyak. Kita tidak bisa menghentikkan produksi sampah, yg bisa dilakukan hanyalah mengurangi dan untuk mengurangi sampah, maka sampah harus dikelola. Sampah akan bisa dikelola dengan baik seandainya sampah itu bisa dipisahkan dari awal. Disini kesadaran masyarakat di sumber awal sampah yg harus ditingkatkan. Apa yg harus dilakukan oleh masyarakat di tingkat awal ini (produsen sampah)?
1. Sampah organik dan sampah anorganik harus dipisahkan dari tingkat rumah tangga
2. ada usaha dari tingkat paling bawah (produsen sampah) untuk mengurangi jumlah sampahnya, menggunakan kembali sampahnya dan memanfaatkannya kembali sampahnya untuk pemanfaatan yang lain.
Kedua hal diatas akan terlaksana baik jika sang produsen sampah (masyarakat) memilih membeli barang/produk yang tidak banyak menghasilkan sampah, produk yang sampahnya bisa didaur ulang (akan lebih baik bila bisa didaur ulang sendiri), produk yang berasal dari hasil daur ulang atau produk yagng bisa digunakan berulang2 sehingga otomatis barang2 yang nanti diproduksi oleh suatu perusahaan akan mengikuti keinginan konsumen. Jadi kesimpulannya bila produsen sampah/konsumen produk/masyarkat mempunyai kesadaran dan kekuatan untuk memilih produk2 seperti diatas maka produksi sampah akan bisa ditekan.
Untuk mengelola sampah sehingga bernilai ekonomipun sudah banyak dilakukan seperti pemanfaatan sampah organik untuk pembuatan kompos, pakan ikan, pakan ternak, sumber energi dan lain2nya. tapi hampir semuanya tidak sukses karena hasil2 produk tersebut kurang diminati oleh masyarakat secara umum



Sampah selalu bertambah, tapi lahan untuk tempat pembuangan sampah tak pernah bertambah. Mulailah mengurangi sampah dari saat sekarang, jika tidak ingin hidup dikelilingi oleh sampah
Pranala di Blog ini:
Resep Pembuatan Kascing Dari Segi Ilmu Tanah
LAHAN KERING Konservasi Tanah dan Air di Lahan Kering Konservasi Tanah di Pulau Nusa Penida EROSI DAN PERUBAHAN IKLIM Pengaruh Tutupan Kanopi terhadap Besarnya Erosi Tanah Prediksi Erosi dengan USLE dan Sistem Informasi Geografi Klimatologi untuk Pertanian Klasifikasi Iklim MIKORIZA Mikoriza, Tanah dan Tanaman di Lahan Kering
PERTANIAN PADA MASA BALI KUNO Sejarah FOKUSHIMITI (Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Indonesia)
Struktur Organisasi FOKUSHIMITI Potensi Sampah Kota Sebagai Sumber Bahan Organik Sampah dan Permasalahannya Sistem Informasi Geografi (SIG)/Geographic Information System (GIS) Aplikasi GIS untuk Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson Implementasi SIG dalam Menunjang Pertanian Berkelanjutan Peta Jenis Tanah Bali Evaluasi Kesesuaian Curah Hujan, Temperatur dan Ketinggian untuk Tanaman Pisang dengan GIS Aplikasi SIG dalam Proses Perencanaan



Agustus 13, 2007 pukul 6:37 am
Selain ada dua jenis sampah, yakni sampah organik dan anorganik…maka…
) dan sampah pemerintah (alias pejabat yang korup
)…apalagi kalau yang di korup adalah dana TPS… bisa parah deey…
ada juga dua jenis sampah lainnya, yaitu sampah masyarakat (alias pembuang sampah sembarangan
Agustus 13, 2007 pukul 11:57 am
klo gitu sampah jenis seperti ini harus dibuang kemana ya?
dibuang ke TPS (tempat pembuangan sampah
Agustus 14, 2007 pukul 9:18 am
salam kenal,
sampah memang jadi masalah, terutama utk daerah perkotaan,
kalau di pedesaan umumnya masyarakat masih memiliki pekarangan yang dijadikan tempat pembuangan sampah pribadi.
Agustus 15, 2007 pukul 5:21 pm
Salam kenal juga…
kayaknya sekarang sampah itu sudah bukan masalah di kota besar saja
di desa2pun sekarang sudah jadi suatu masalah, khusus untuk kebersihan
kemarin sempat berkunjung ke Nusa Penida
di Pura yang letaknya paling tinggi di Nusa Penida (lupa namanya apa) sampah plastik berserakan banyak.
mungkin untuk saat ini blum menggangu, tapi secara estetika pemandangan, sepertinya itu dah masalah
Agustus 17, 2007 pukul 2:05 am
Ehm… ngomongin masalah sampah, disamping kesadaran dari masing-masing individu dan juga adanya sarana dan prasarana yang mendukung untuk tempat pembuangan sampah dan juga pengolahannya. bukan hanya penampungannya ajah yang besar. tapi bagaimana untuk mengolah sampah itu sendiri.
Salam kenal mas.
Agustus 17, 2007 pukul 4:31 am
seperti yang dah ditulis diatas, ada bnyak cara untuk mengolah sampah, tapi belum ada yang efektif. mudah2an suatu saat nanti sampah2 itu bisa di olah dengan pengolahan yg lebih ramah lingkungan. rumusnya cuman satu “jngan anggap sampah itu sebagai barang buangan, tapi anggaplah sampah itu barang yang bernilai ekonomi tinggi”.
Agustus 24, 2007 pukul 3:33 pm
Sebenarnya klo kita liat secara global, memang sampah adalah masalah yang sangat besar untuk masyarakat. Tetapi sesuatu hal yang besar bisa kita tilik dari hal yang kecil-kecil. Saya berikan contoh sedikit tentang budaya keseharian masyarakat di sekitar saya pada umumnya. Saya adalah seorang mahasiswa yang sering nongkrong di tempat kos teman. Setiap hari mahasiswa yang indekos beli makan n minum di warung. Dan setiap kali beli makan n minum itu pula mereka menyisakan 2 tas plastik yang sering sekali mereka langsung membuangnya. (2 tas plastik: 1 untuk makanan, n satunya bwt minumnya). Kita liat dari peristiwa ini saja, sudah cukup menyimpulkan kebudayaan masyarakatlah yang mungkin cuma sebagian saja yang kurang tanggap dengan kondisi di sekitarnya. Saya bisa memaklumi, mungkin mereka gak tau akan kondisi sekitar dan taunya hanya bisa mengandalkan para pahlawan tukang-tukang sampah yang sanggup mereka bayar. hehe.. piece…
Oktober 11, 2007 pukul 10:05 am
Mohon Bantuannya nih rekan2,menanggapi masalah sampah ini, saya ingin tahu bagaimanakah gambar/design Tempat pembuangan sampah (TPS)yang dipisah antara organik dan anorganik sesuai standart SNI, ada yang bisa bantu saya.
Oktober 11, 2007 pukul 1:32 pm
Sekarang sudah banyak sampah sampah kota diburu oleh pengembang Pupuk organik. Salah satunya adalah organik yang bermerk RBG.