Sejak dulu indonesia sudah mengenal sistem pertanian organik seperti sistem pertanian tiga strata di bali, sistem pernaian tanaman lorong dan lain-lain. Akan tetapi sejak di kembangkannya revolusi hiau leh pemerintah di akhir tahun 1960-an, sistem pertanian organik banyak di tinggalkan oleh petani akibat dari minimnya hasil produksi pertanian dibandingkan dengan hasil dari penambahan bahan2 anorganik pada revolusi hijau.
Perkembangan revolusi hijau sangat signifikan dalam meningkatkan produksi pertanian, khususnya padi yang puncaknya terjadi pada pertengahan tahun 1980-an dengan di daulatkannya indenesai sebagai salah satu negara berswasembada beras.
Sejak swasembada beras pada tahun-tahun itu, produksi beras terus menurun tiap tahunnya. Seiring juga dengan pertambahan penduduk, maka kebutuhan akan beras pun terus meningkat. Itu salah satu faktornya. Selain faktor bertambahnya jumlah penduduk, faktor kurangnya lahan dan penurunan tingkat kesuburan tanah juga di sebut-sebut sebagai faktor lain yang menyebabkan menurunnya produksi beras nasional. Saat ini impor beras sudah menjadi kewajiban pemerintah tiap tahunnya untuk menambah kuantitas jumlah beras dalam negeri yang saat ini sudah tidak lagi mampu memasok kebetuhan penduduknya.
Menurut pendapat beberapa ahli, revolusi hijau (penggunaan pestisida, pupuk anorganik dah varietas unggul) mengakbiatkan terjadinya penurunan kualitas lahan berupa menurunnya kesuburan fisik dan biologi tanah. Struktur tanah menjadi lebih padat dan keras, sehingga mempengaruhi porositas dan permeabilitas. Biota dan mikrobita tanah juga mengalami degradasi dalam hal jumlah. Akibat dari penggunaan pestisida, biota2 tanah banyak yg mati sehingga memotong rantai makanan yg mengakibatkan meningkatnya populasi-populasi hama lain pada beberapa jenis tanaman. Selain itu biota tanah dan mikroba tanah juga merupakan organisme yg membabtu perombakan unsur-unsur sehingga tersedia bagi tanaman. Akibat dari kondisi seprti di atas maka ada baiknya mempertimbangkan kembali pemanfaatan produk2 kimia yg berasal dari revolusi hijau tersebut.
Pertanian organik diharapkan mampu mngembalikan kondisi alam yg telah kacau balau akibat dari proses revolusi hijau pada 3 dekade belakangan ini. Dengan penerapan sistem pertanian organik, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sehingga menciptakan pertanian yg berkelanjutan.
Menurut deptan Pertanian Organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Serifikasi produk organik yang dihasilkan, penyimpanan, pengolahan, pasca panen dan pemasaran harus sesuai standar yang ditetapkan oleh badan standardisasi. Dalam hal ini penggunaan GMOs (Genetically Modified Organisme) tidak diperbolehkan dalam setiap tahapan pertanian organik mulai produksi hingga pasca panen.
Pertanian organik yang merupakan bentuk dari pemanfaatan secara keseluruhan dari bahan-bahan organik dalam penarapannya akan memberikan dampak yang baik bag lingkungan sekitar, sehingga pertanian yang berkelanjutan yang diharapkan mampu memberikan hasil yang konsisten setiap musim panen dapat di capai. Saat ini dengan sistem pertanian moderen (pemanfaatan bahan2 kimia anorganik) sebenarnya sudah mampu meberikan hasil yang maksikmal, tetapi efek samping dari sistem pertanian moderen sangat merugikan lingkungan dan konsumen produk pertanian seperti rusaknya ekosistem, dan penyakit2 jangka panjang pada manusia.
Paradigma masyarakat terhadap penerapan pertanian organik berbeda dan bahkan cenderung di abaikan, kerana presepsi masayakat terhadap pertanian organik masih kurang baik. Kuantitas hasil yang tidak signifikan pada saat-saat awal penerapan pertanian organik membuat beberapa petani susah menerima pertanian organik, sedangkan pertanian moderen dapat memberikan kuantitas hasil yang lebih cepat dan signifikan. Padahal sebenarnya untuk jangka panjang pertanian organik merupakan sistem pertanian yang memberikan hasil sama baik dari pada pertanian moderen bahakan kualitas kesehatan dari hasil pertanian organik lebih baik.
Pertanian organik selain melindungi lingkungan, juga dapat melindungi konsmen pemanfaat hasil pertanian organik. Banyak sekali hasil penelitian yang mengungkapkan penyakit2 yang ditimbulkan oleh penerapan pertanian modern seperti kanker dan tumor, akan tetapi masalah inipun masih menjadi polemik dimasyarakat. Pemnfaatan pestisida berlebihan memang menimbulkan kerusakan lingkungan an kesehatan, apalagi bahan2 kimia yang berasal dari pestisida kimia susah untuk di daur ulang oleh lingkungan dan cenderung bertahan dilingkungan yang mengakibatkannya sebagai sumber racun bagi mahluk hidup disekitarnya.
Pranala di Blog ini:
Ilmu Tanah Tanah dan Lahan Tanah Susunan Utama Tanah Segitiga Tekstur Evaluasi Lahan SUMBERDAYA Pertanian Berkelanjutan Pertanian Organik, Latar BelakangnyaResep Pembuatan Kascing Dari Segi Ilmu Tanah
LAHAN KERING Konservasi Tanah dan Air di Lahan Kering Konservasi Tanah di Pulau Nusa Penida EROSI DAN PERUBAHAN IKLIM Pengaruh Tutupan Kanopi terhadap Besarnya Erosi Tanah Prediksi Erosi dengan USLE dan Sistem Informasi Geografi Klimatologi untuk Pertanian Klasifikasi Iklim MIKORIZA Mikoriza, Tanah dan Tanaman di Lahan Kering
PERTANIAN PADA MASA BALI KUNO Sejarah FOKUSHIMITI (Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Indonesia)
Struktur Organisasi FOKUSHIMITI Potensi Sampah Kota Sebagai Sumber Bahan Organik Sampah dan Permasalahannya Sistem Informasi Geografi (SIG)/Geographic Information System (GIS) Aplikasi GIS untuk Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson Implementasi SIG dalam Menunjang Pertanian Berkelanjutan Peta Jenis Tanah Bali Evaluasi Kesesuaian Curah Hujan, Temperatur dan Ketinggian untuk Tanaman Pisang dengan GIS Aplikasi SIG dalam Proses Perencanaan




Mei 20, 2007 pukul 11:39 am
mas mohon ijin >> artikelnya saya tempel di http://bantenonline.com – terima kasih..
Mei 20, 2007 pukul 4:17 pm
Menurut pendapat beberapa ahli, revolusi hijau (penggunaan pestisida, pupuk anorganik dah varietas unggul) mengakbiatkan terjadinya penurunan kualitas lahan berupa menurunnya kesuburan fisik dan biologi tanah….
=============================================================
menurut artikel yang pernah saya baca DISNI! >> bisa mengakibatkan KEMANDULAN-CACAT BAYI Juga KanKer…. Menakutkan bukan?
Mei 21, 2007 pukul 5:28 pm
@Banten
Silahkan
@Wargabanten
Kemandulan-cacat bayi itu lebih disebabkan oleh pestisida. karean cuman pestisida yg bahan kimianya masih melekat di tanaman saat tanaman2 tersebut dikonsumsi oleh manusia
Juni 15, 2007 pukul 9:41 am
Terus terang aku sangat mandukung sistem pertanian ini.
aku minta tolong penampilan /kirimkan ke emailku sacara detail mengenai pertanian organik di bali.
Agustus 6, 2007 pukul 12:47 pm
putra idaman
Agustus 6, 2007 pukul 12:48 pm
bagus la pertanian organik nie
Agustus 6, 2007 pukul 12:50 pm
nak berkenalan dgn bdk yang ambil PRT 2008 universiti putra malaysia sem 1
Agustus 6, 2007 pukul 1:28 pm
@Sholikhul
sebenarnya sistem pertanian organik di bali dah cukup maju
dikarenakan waisatawan2 asing lebih mengutamakan jenis makanan yg berasal dari pertnian organik. tapi sayang sampai saat ini saat blum punya foto2nya. sabar dulu ya…
@ putra idaman
salam kenal juga putra
pertanian organik emang bagus. tapi dengan kondisi varitas2 pertanian saat ini yg boros unsur hara, sepertinya pemanfaatan pupuk anorganik sebagai pupuk pelengkap mau ga mau harus dilakukan. tapi digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan pengaplikasiannya harus sesuai engan kondisi pupuk. misalnya urea harus ditanam agar efisien pupuknya
September 12, 2007 pukul 4:39 pm
setuju kalau kita sudah harus menyadari dampak dari pemakian pestisida. Pamit aku mas, bahan ini aku jadikan sebagai acuan.
September 15, 2007 pukul 12:02 am
Saya masih menyimpan file DAT yang isinya membahas tentang peningkatan produksi pertanian. Dibuat oleh produsen pupuk organik di Jogja. Bagi yang ingin mendapatkan filenya [gratis] silahkan kirim email ke : anungrey@yahoo.com
0811122045
persediaan terbatas.
terima kasih
September 19, 2007 pukul 11:22 am
saya lagi belajar mengenai organik ni…, terima kasih untuk artikelnya. Jika saya punya lahan di lampung siapa yah yang bersedia mengelola untuk pertanian organik ya? hasil kita bagi dua atau menurut perjanjianya.
September 19, 2007 pukul 11:43 am
@Dirman
Silahkan mas Dirman. semoga semakin banyak orang2 yg sadar klo tidak hanya konsekwensi ekonomi yg kita kejar, tapi juga penyelamatan lingkungan dengan tidak menggunakan pestisida atau minimal menguranginya
@Anung
Terimakasih infonya mas Anung
@Renita
niat yag bagus untuk mencoba menciptakan peluang usaha pertanian organik. mudah2an bisa menjadi pioner pengembangan pertanian organik di Lampung.
September 29, 2007 pukul 6:06 pm
Aku watson, dari Faperta USU Medan. aku pikir terlalu dini untuk sesumbar pertanian organik. sepertinya kita hanya mengacu ke masalah lingkungan melulu, sementara manusia kelaparan kita abaikan. Saya pernah coba pertanian organik, dan warga di kawasan Pertanian Kabupaten Karo juga sudah mencobanya. Namun, gagal total dari sisi ekonomnya. Masalahnya, produksi sedikit, pemasaran sulit, sistemnya juga rumit. Kalaupun ada hasil pertanian organik yang dipasarkan saat ini, masih sebatas memenuhi kebutuhan orang ‘high’ saja. Lalu, dengan kondisi seperti itu, aku pikir warga Indonesia yang sebagian besar ekonomi lemah takkan bisa makan, ya gak?. apakah kita selalu mengikuti arus yang dialirkan negara maju, cobalah lebih reality! Mana lebih banyak manusia mati karena kelaparan atau karena mati karena dampak pertanian dengan pestisida? Yang penting kita terapkan adalah pemakaian pupuknya tepat. toh, bahan-bahan kimia tak berbahaya dalam kadar tertentu. Kalau merunut beberapa buku, hasil pertanian organik ataupun non organik bisa mengandung racun, atau bisa menjadi racun jika kita konsumsi berlebih.
coba pikirkan lagi sebelum ambil sikap, jika tak mampu memikirkannya, coba praktekkan. Lalu, kamu bisa ambil kesimpulan, dengan syarat hasil organik itu harus terjangkau semua kalangan.
Terima kasih untu yang baca komentar saya.
September 30, 2007 pukul 5:06 pm
utk saat ini emang pertanian organik belum bisa membuat produksi pertanian meningkat. tp kenapa kita harus mulai dari sekrang? kondisi lahan kita saat ini dah banyak yg rusak. hasil penelitian di tabanan pada 2 jenis lahan yg berebda (mudah2an bisa saya tampilin disini datanya), yaitu lahan yg terintesifikasi dan non intensifikasi (pertanian organik)memperluhatkan perbedaan sifat biologi tanah yg berbeda, dimana bnyak biota2 yg dah musnah di daerah pertanian intensif.
seandainya kondisi lahan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin lahan2 kita akan tidak berproduksi lagi. tp saya akui juga bhawa kebutuhan pupuk anorganik masih dibutuhkan saat ini atau bahkan utk selamanya pupuk anorganik ini dibutuhkan tapi pemberiannya harus sesuai dengan kebutuhan tanah dengan dosis dan cara pemberian yang tepat agar efisien.
klo pestisida kimia, sebenarnya ini harus dilarang. memang bahan2 kimia tidak berbahaya dalam kdar tertentu. tapi bahan2 kimia ini selalu terakumulasi dalam darah dan bersifat turun temurun. mngkin saat ini kita tidak keracunan, tp anak cucu kita nantilah yg kena dampak akibat dari akumulasi bahan kimia dalam darah kita saat ini
jnganlah berpikir hanya untuk saat ini. berpikirlah untuk msa depan kita nanti. karena menurutku hidup akan lebih berguna dan bermanfaat bila kita bisa memberikan yg lebih baik dari saat ini kepada orang2 setelah kita nanti….
Oktober 14, 2007 pukul 10:01 pm
Saya sangat setuju dan mendukung pertanian organik ini. Mohon informasi buku tentang pertanian organik yang dapat dijadikan panduan praktis berusaha tani komersial di Indonesia. T kasih atas informasinya. Salam.
Agustus 29, 2008 pukul 1:49 pm
ak tertarik dengan pertanian organik. tolong donk kirimin penerapannya secara praktis. biar ak jg bisa bertani secara organik. thanks ya. kirimnya via email aja.
Oktober 30, 2008 pukul 4:57 pm
Yang harus kita lakukan saat ini adalah berkerja bersama-sama untuk menyukseskan pertanian organik. Walaupun kalau kita lihat kenyataan saat ini, pertanian konvensional (baca : non organik) yang lebih berkermbang.
Yang paling penting saat ini adalah bagaimana kita berperan, baik dalam penyebaran informasi maupun pembinaan langsung ke masyarakat. Pembinaan langsung inilah yang nantinya akan menciptakan ketahanan di bidang pertanian khususnya.
Go… Pertanian Organik….
November 20, 2009 pukul 4:28 am
Thanks 4 yr info.
It helps my task