Klasifikasi Iklim
Mei 2, 2007 — La AnUnsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut (Lakitan, 2002).
Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.
Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi.
Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002). Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Kadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.
Hujan merupakan unsur fisik lingkungan yang paling beragam baik menurut waktu maupun tempat dan hujan juga merupakan faktor penentu serta faktor pembatas bagi kegiatan pertanian secara umum, oleh karena itu klasifikasi iklim untuk wilayah Indonesia (Asia Tenggara umumnya) seluruhnya dikembangkan dengan menggunakan curah hujan sebagai kriteria utama (Lakitan, 2002). Tjasyono (2004) mengungkapkan bahwa dengan adanya hubungan sistematik antara unsur iklim dengan pola tanam dunia telah melahirkan pemahaman baru tentang klasifikasi iklim, dimana dengan adanya korelasi antara tanaman dan unsur suhu atau presipitasi menyebabkan indeks suhu atau presipitasi dipakai sebagai kriteria dalam pengklasifikasian iklim.
Beberapa sistem klasifikasi iklim yang sampai sekarang masih digunakan dan pernah digunakan di Indonesia antara lain adalah:
a. Sistem Klasifikasi Koppen
Koppen membuat klasifikasi iklim berdasarkan perbedaan temperatur dan curah hujan. Koppen memperkenalkan lima kelompok utama iklim di muka bumi yang didasarkan kepada lima prinsip kelompok nabati (vegetasi). Kelima kelompok iklim ini dilambangkan dengan lima huruf besar dimana tipe iklim A adalah tipe iklim hujan tropik (tropical rainy climates), iklim B adalah tipe iklim kering (dry climates), iklim C adalah tipe iklim hujan suhu sedang (warm temperate rainy climates), iklim D adalah tipe iklim hutan bersalju dingin (cold snowy forest climates) dan iklim E adalah tipe iklim kutub (polar climates) (Safi’i, 1995).
b. Sistem Klasifikasi Mohr
Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan >100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 – 60 mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan (Anon, ?).
c. Sistem Klasifikasi Schmidt-Ferguson
Sistem iklim ini sangat terkenal di Indonesia. Menurut Irianto, dkk (2000) penyusunan peta iklim menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson lebih banyak digunakan untuk iklim hutan. Pengklasifikasian iklim menurut Schmidt-Ferguson ini didasarkan pada nisbah bulan basah dan bulan kering seperti kriteria bulan basah dan bulan kering klsifikasi iklim Mohr. Pencarian rata-rata bulan kering atau bulan basah (X) dalam klasifikasian iklim Schmidt-Ferguson dilakukan dengan membandingkan jumlah/frekwensi bulan kering atau bulan basah selama tahun pengamatan ( åf ) dengan banyaknya tahun pengamatan (n) (Anon, ? ; Safi’i, 1995).
Schmidt-Fergoson membagi tipe-tipe iklim dan jenis vegetasi yang tumbuh di tipe iklim tersebut adalah sebagai berikut; tipe iklim A (sangat basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim B (basah) jenis vegetasinya adalah hutan hujan tropis, tipe iklim C (agak basah) jenis vegetasinya adalah hutan dengan jenis tanaman yang mampu menggugurkan daunnya dimusim kemarau, tipe iklim D (sedang) jenis vegetasi adalah hutan musim, tipe iklim E (agak kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim F (kering) jenis vegetasinya hutan savana, tipe iklim G (sangat kering) jenis vegetasinya padang ilalang dan tipe iklim H (ekstrim kering) jenis vegetasinya adalah padang ilalang (Syamsulbahri, 1987).
Table Klasifikasi Iklim Menurut Schmidt-Ferguson

d. Sistem Klasifikasi Oldeman
Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Penyusunan tipe iklimnya berdasarkan jumlah bulan basah yang berlansung secara berturut-turut.
Oldeman, et al (1980) mengungkapkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi adalah 150 mm per bulan sedangkan untuk tanaman palawija adalah 70 mm/bulan, dengan asumsi bahwa peluang terjadinya hujan yang sama adalah 75% maka untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi 150 mm/bulan diperlukan curah hujan sebesar 220 mm/bulan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan air untuk tanaman palawija diperlukan curah hujan sebesar 120 mm/bulan, sehingga menurut Oldeman suatu bulan dikatakan bulan basah apabila mempunyai curah hujan bulanan lebih besar dari 200 mm dan dikatakan bulan kering apabila curah hujan bulanan lebih kecil dari 100 mm.
Lamanya periode pertumbuhan padi terutama ditentukan oleh jenis/varietas yang digunakan, sehingga periode 5 bulan basah berurutan dalan satu tahun dipandang optimal untuk satu kali tanam. Jika lebih dari 9 bulan basah maka petani dapat melakukan 2 kali masa tanam. Jika kurang dari 3 bulan basah berurutan, maka tidak dapat membudidayakan padi tanpa irigasi tambahan (Tjasyono, 2004).
Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Pemberian nama Zone iklim berdasarkan huruf yaitu zone A, zone B, zone C, zone D dan zone E sedangkan pemberian nama sub zone berdasarkana angka yaitu sub 1, sub 2, sub 3 sub 4 dan sub 5.
Zone A dapat ditanami padi terus menerus sepanjang tahun. Zone B hanya dapat ditanami padi 2 periode dalam setahun. Zone C, dapat ditanami padi 2 kali panen dalam setahun, dimana penanaman padi yang jatuh saat curah hujan di bawah 200 mm per bulan dilakukan dengan sistem gogo rancah. Zone D, hanya dapat ditanami padi satu kali masa tanam. Zone E, penanaman padi tidak dianjurkan tanpa adanya irigasi yang baik. (Oldeman, et al., 1980)
Tabel Klasifikasi iklim menurut Oldeman

Pranala di Blog ini:
Klimatologi untuk Pertanian Aplikasi GIS untuk Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson Susahnya Memprediksi Hujan


September 4, 2007 pukul 6:13 pm
terkait klasifikasi ini, saya mau tanya bagaimana kalo ada kebutuhan untuk mengkonversi nilai antar ketiga sistem klasifikasi itu. gimana ya cara perhitungannya.
September 5, 2007 pukul 1:41 am
ketiga sistem klasifikasi yg mana nieh?
September 5, 2007 pukul 8:36 pm
yg iklim itu (SF,kopen,oldeman). bayangan saya mgk mirip2 rumus untuk menguba nilai antar satuan fahrenheit-celcius-reamur-kelvin. atau setidaknya ada semacam tabel perbandingan. soalnya saya lagi entri data tipe iklim untuk protected area di indonesia.
September 5, 2007 pukul 8:44 pm
jadi sekalian minta bantu gitu
September 5, 2007 pukul 9:46 pm
oooo… gitu
beda, ga bisa disatuin gitu deh kyaknya
aq blum ketemu logika utk bisa menggabungkan ketiga tipe iklim itu
soalnya cara perhitungannya dan sasaran dari ketiga tipe iklim itu beda.
klo Kopen tdak begitu paham tentang rumus2 awalnya seperti apa sehingga ketemu tipe2 yg dia bagi.
klo SF dan Oldeman itu dah beda jauh. SF itu sasaran tanaman hutan, sedangkan Oldeman tanaman hortikultura. menurut SF bulan kering itu <60 mm/bln, Oldeman <100 mm/bln. bulan basahnya juga beda. Oldeman make rata2 perbulan, SF itu curah hujan bulanan dalam beberapa tahun penelitian.
evaluasi peta yg kubikin utk kedua klasifikasi itu memberi aq keyakinan klo perbandingan itu ga bisa diketemukan
September 7, 2007 pukul 11:15 am
wah kalo gitu emang saya harus berburu data lagi nih. saya emang lagi nyari data tentang sebaran tipe iklim dan terutama tipe ekosistem indonesia. seandainya saja ada data spasial tentang itu yg mudah diperoleh…:\
makasih saya jadi tau kalo SF untuk kehutanan.
skalian curhat juga, bds van steenis tipe ekosistem hutan di indonesia itu:
1.Mangrove/Hutan Payau
2.Hutan Rawa
3. Hutan Gambut
4. Vegetasi Rheofit
5. Vegetasi Pantai
6. Vegetasi Tanah Kwarsa
7. Vegetasi Tanah Kapur
8. Hutan Hujan Tropika
9. Hutan Hujan Pegunungan
10.Hutan Hujan Sub Alpin
11.Hutan Musim (Monsun) Dataran Rendah
12.Hutan Musim Pegunungan
sbenernya dah lengkap belum sih. apa masih ada lagi? oya milis statistik yg enak buat pemula kayak saya dimana ya?
maaf ya kalo kebanyakan nanya?
September 8, 2007 pukul 11:42 am
pak nurman, coba anda ke puslittanak di bogor. mngkin disana dah sempat bikin peta iklim. saya pernah baca klo peta iklim klasifikasi Oldeman untuk seluruh Sumatra pernah dibikin. tp saya lupa yg bikin mana. sepertinya puslittanak.
nah untuk tipe ekosistem hutan ama milist statistik, trus terang saya ga tau. coba nanti saya cari2lagi tentang tipe ekosistem hutan ini. sepertinya hal ini suatu saat berguna buat saya. saya juga ngucapin terimakasih untuk infonya.
September 11, 2007 pukul 3:31 pm
ok deh. sebenernya yg saya cari itu yg sf sebab bidang kehutanan. keperluannya,bersama peta ekosistem dan tema lainnya, untuk menyaring sebaran kawasan konservasi di indonesia. buat ngitung keterwakilan dan forecast lainnya.
thx ya
Maret 4, 2008 pukul 4:23 pm
saya mo tanya, klo klasifikasi curah hujan yang tergolong ch rendah sedang tinggi tu berapa mm/th??
misal ch rendah 600 mm/th. kira kira saya bisa dapet klasifikasi seperti itu dimana yak??
many thanks
Maret 5, 2008 pukul 1:10 pm
@nurman
sebenarnya peta iklim SF itu sederhana proses pembuatannya. mngkin hanya perlu data yang panjang aja. cara pembuatannya bisa di lihat di link saya saya tulis di atas
@Maharini
)
ada klasifikasi hujan dari wesmayer (mudah2an tulisan namanya benar
tp klasifikasi hujan tersebut tdak begitu bagus bila diterapkan di indonesia yg berdaerah tropis
coba buka2 buku tentang Konservasi Tanah dan Air. sepertinya di karangannya Sitanala Arsyad terbitan IPB
klo tidak ada nanti saya coba carikan
Maret 11, 2008 pukul 12:06 pm
Apabila ada pertanyaan seputar iklim Schmidt-Fergusson seperti ini :
Data curah hujan di Kabupaten X tahun 2003 sebagai berikut dari Jan – Des: 270 – 265 – 260 – 205 – 250 – 105 – 65 – 55 – 30 – 25 – 110 – 120. Dari data tersebut Kabupaten X memiliki tipe iklim …. (berdasarkan klasifikasi Schmidt – Ferguson)
Jawabannya : Q = 3/8 x 100 % = 38 % atau
Q = 3/9 x 100% = 33,3 %
Maret 12, 2008 pukul 12:46 pm
yang benar adalah 38% atau 0.38 sehingga tipe iklimnya adalah C atau agak basah. tp inikan hitungan untuk data hujan 1 tahun. ada baiknya data hujan yg digunakan minimal adalah 10 tahun
April 27, 2008 pukul 6:56 pm
apa ja kelebihan n kekurangan klasifiks iklim scr empirik dan genetik?trimakasih
Mei 1, 2008 pukul 11:02 pm
apa aja sih hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakann klasifikasi iklim????
tolong dijelasin y…….
Mei 1, 2008 pukul 11:07 pm
proses terjadinya presipitasi paa j????
tolong dijelasin y !!!!!!!!!
Mei 7, 2008 pukul 1:02 pm
referensi untuk melakukan analisa iklim buat lahan pertanian dengan menggunakan teknik interpolasi spasial
Mei 7, 2008 pukul 7:46 pm
@manis
blum banyak literatur yang saya baca, jadi blum begitu paham. ada yang bisa bantu?
@lukman
1. yang wajib diperhatikan dr pemanfaatn suatu klasifikasi iklim adalah dasar pengekelasan, knapa menggunakan hujan atau suhu dan kenapa curah hujan sekian yg digunakan. hal2 terseut akan menentukkan jenis pemanfaar dr klasifikasi iklim tersebut. misal schimidt-ferguson untuk tanaman kehutanan. Oldeman utnutk tanaman padi dan hortikultura
2. coba baca tulisn saya yang berjudul hujan
@amilia
mkasudnya metode interpolasi apa yg digunakan utk interpolasi fenomena iklim? biasan co-criging atau Natural Neighbor
Juni 16, 2008 pukul 12:30 pm
saya mahasiswa semester akhir di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, Jurusan Teknik Pertambangan yang sekarang lagi kontrak Tugas Akhir. Materinya baik dan mudah dipahami. Thanks juga untuk referensinya, karna sangat membantu dalam penyusunan TA ini. G B U for You
Juni 18, 2008 pukul 8:54 pm
Assalamau’alaikum…
Salam kenal Bang La An…
Blognya keren banget, bisa nambah2 ilmu ttg iklim dan GIS
Ane mau tanya, Bang…
1. Bagaimanakah sistem klasifikasi oldeman yg benar? Apakah menggunakan data rata-rata bulan basah(BB) berurutan dan BK berurutan? atau hanya BB nya saja yg berurutan, BK nya tidak perlu berurutan.
2. Misal ada data sbb (berurutan dari Jan-Des) 236; 225; 276; 239; 70; 230; 204; 203; 50; 60; 213; 238=
Bertipe iklim (oldeman) apakah data di atas?
Sebenarnya, bagaimanakah kriteria BB berurutan dan BK berurutan? Apakah dari data di atas jumlah BB berurutannya 9 ataukah 6 bulan. Lalu berapakah jumlah BK berurutannya
3. Misalkan ada data sbb: 329; 318; 330; 382; 181; 283; 249; 175; 121; 133; 155; 320=
Berpakah BB berurutan dari data tsb, apakah 5 atau 7?
bertipe iklim (oldeman) apakah data tsb.
4. Misalkan ada data sbb: 110; 121; 120; 126; 108; 80; 105; 84; 140; 98; 86; 117=
Bertipe iklim apakah data diatas.
Terima kasih banyak Bang La An…
Semoga Blognya tambah kerenn….
Wassalamu’alaikum…
Slanker Papua
Juni 18, 2008 pukul 8:56 pm
Oiya, kalo gak salah BB itu 200mm dan BK itu dibawah 100mm/bln ya? Ane bingung ttg kriteria berurutannya Bang.
Thanx…
Juni 21, 2008 pukul 2:39 pm
@Qoqo
sama2. Alhamdulillah klo tulisan kecil ini berguna
@slanker Papua
Waalaikumussalam
1. dr apa yg saya baca, dr bukunya aslinya Oldeman et al (1981) klo BB dan BK-nya itu berututan
2. menurut saya data2 itu akan bertipe iklim C2 utk klasifikasi Oldeman. dengan BB 6 dan BK 2
3. 5 BB
4. E2
ga usah bingung. berurutan itu mksud data bulanannya berurutan, ga boleh di halangi oleh rata2 nilai di luar data yg ditetapkan. BB itu di atas 200 sedangkan BK itu di bawah 100
Juli 16, 2008 pukul 1:55 pm
bisa berbagi ilmu cara menghitung interpolasi spasial menggunakan metode kriging dan metode poligon thiessien untuk analisa curah hujan
Juli 28, 2008 pukul 4:08 pm
Salam kenal, senang banget baca artikel di blog Bang La An, berguna banget bagi penelitan saya. Mo nanya nih..! Gimana cara menghitung interpolasi spasial dengan menggunakan metode Kriging untuk analisa curah hujan ! Ditunggu Ya Bang Jawabannya ! Jazz. Wass.Wr.Wb.
Agustus 7, 2008 pukul 3:30 pm
@dewi h dan kamilia
coba baca ilink dibawah untuk dasar teori metode kriging dan metode polygon thiesien
- Metode Kriging
- Metode Polygon Thiessen